Orang Utan Sempurna Mati di Ketapang, Legislator Desak Karhutla Kalbar Dinyatakan Bencana Nasional

Seekor orang utan bernama Sempurna yang dievakuasi tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI di Ketapang dinyatakan mati pada Kamis (3/9/2026).
Penulis: Galih
Jumat, 04 September 2026 | 16:59:01 WIB

KETAPANG — Sempurna, orang utan yang dievakuasi tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), dinyatakan mati. Satwa jantan itu ditemukan dalam kondisi sangat lemah di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Kamis (3/9/2026).

Kepala BKSDA Kalbar Murlan Dameria Pane menyampaikan duka mendalam atas kegagalan penyelamatan tersebut. “Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa. Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Alarm Krisis Ekologi yang Tak Bisa Ditoleransi

Daniel Johan menegaskan kematian Sempurna bukan sekadar kehilangan satu individu satwa dilindungi. Ia menyebutnya sebagai alarm keras bahwa krisis karhutla di Kalbar telah melewati batas toleransi.

“Kita semua berduka dan sangat prihatin atas kematian orang utan yang sempat pingsan akibat paparan asap karhutla di Kalimantan Barat. Ini bukan sekadar kehilangan satu individu satwa dilindungi, ini alarm keras bahwa krisis karhutla Kalbar sudah menyentuh titik yang tidak bisa lagi ditoleransi,” kata Daniel kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).

Kualitas Udara Memburuk, Bukan Hanya Satwa yang Terdampak

Legislator asal Partai Kebangkitan Bangsa itu menyebut dampak karhutla tidak hanya menimpa manusia dan orang utan. Berbagai jenis satwa lain juga ikut terdampak, menunjukkan luasnya kerusakan ekologis yang terjadi.

“Kondisi Kalimantan Barat saat ini sangat memprihatinkan. Kualitas udara sudah membahayakan untuk dihirup, bukan hanya oleh satwa, tapi oleh masyarakat yang setiap hari harus bernapas di tengah kepungan asap,” ungkapnya.

Desakan Status Bencana Nasional ke Presiden Prabowo

Daniel meminta pemerintah segera menetapkan karhutla Kalbar sebagai bencana nasional. Menurutnya, pemadaman yang mengandalkan jalur darat tidak lagi cukup menghadapi kondisi yang terus memburuk.

“Negara harus segera menetapkan status kebencanaan karhutla ini sebagai bencana nasional. Ini sudah terlambat, jangan menunggu korban jiwa terus bertambah baru kita mengambil keputusan,” tegasnya.

Ia secara khusus memohon Presiden Prabowo Subianto memprioritaskan keselamatan dan kesehatan masyarakat. “Kami memohon kepada Bapak Presiden agar mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan masyarakat khususnya yang parah seperti Kalimantan Barat di atas segala pertimbangan lain, dan segera mengambil langkah extraordinary untuk mengakhiri krisis ini.”

Apresiasi untuk Relawan dan Peran Ibu-Ibu di Garis Depan

Di tengah keprihatinan, Daniel memberikan apresiasi kepada YIARI dan BKSDA yang telah berupaya maksimal dalam evakuasi dan perawatan satwa terdampak. Ia juga menyoroti perjuangan warga sipil yang turun memadamkan api dengan peralatan terbatas.

“Saya juga mengapresiasi perjuangan masyarakat yang turun tangan memadamkan api dengan segala keterbatasan alat, seperti yang dilakukan oleh ‘The Power of Mama’ di Kabupaten Ketapang. Meski semuanya kaum ibu, perjuangan warga sipil di garis depan yang seharusnya didukung oleh berbagai sarana prasarana memadai, mereka mempertaruhkan jiwa raga agar api segera padam,” tuturnya.

Kematian Sempurna menjadi catatan kelam dalam sejarah karhutla Kalbar. Data korban jiwa dan kerusakan lingkungan yang terus bertambah menuntut respons negara yang lebih besar, bukan sekadar operasional rutin tahunan.

Reporter: Galih