Peran Ibu Dampingi Anak di Masa Tumbuh Kembang: Panduan Praktis Sehari-hari

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan berbicara dalam kegiatan bersama Fatayat NU di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Penulis: Rendra
Kamis, 10 September 2026 | 09:21:01 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan menegaskan satu hal yang sering terlupakan ibu muda: anak menyerap hampir semua yang mereka lihat dan dengar dari keluarga. Bukan dari layar, bukan dari sekolah, tapi dari rumah.

Pernyataan itu disampaikan Veronica dalam kegiatan bersama Fatayat NU di Jakarta, Minggu (6/9/2026). Acara yang mempertemukan lebih dari 100 ibu, edukator, dan perwakilan Jakarta Islamic Center ini membahas cara mendampingi anak di masa tumbuh kembang.

Apa yang Sebenarnya Diserap Anak dari Ibu Setiap Hari

Veronica menyoroti bahwa pendampingan orang tua bukan sekadar menemani anak belajar membaca atau berhitung. Interaksi kecil sehari-hari, dari cara ibu berbicara hingga ekspresi kasih sayang, ikut membentuk karakter anak.

"Apa yang dilihat, kata-kata yang keluar, serta cinta kasih yang diberikan orang tua akan diperhatikan oleh anak. Karena itu, mari kita berkomitmen meluangkan waktu bersama anak, untuk mendidik dan mendampingi mereka," ujar Veronica.

Artinya, waktu 15 menit bermain penuh perhatian di sela rutinitas bisa lebih berdampak dibanding satu jam menemani anak sambil ibu sibuk memegang ponsel. Anak belajar dari kehadiran yang utuh, bukan sekadar keberadaan fisik.

Belajar Tidak Harus Selalu dengan Buku

Psikolog Anak dan Keluarga Irma Gustiana A. S.Psi., M.Psi., Psikolog menambahkan, anak lebih mudah menyerap pelajaran ketika merasa aman secara emosional. Suasana yang menegangkan justru membuat anak menutup diri.

"Anak akan lebih mudah belajar ketika merasa aman secara emosional, dihargai, dan memiliki kesempatan bereksplorasi tanpa takut melakukan kesalahan," jelas Irma.

Menurutnya, suasana belajar yang menyenangkan membangun rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian mencoba hal baru. Ini berlaku untuk anak usia balita hingga sekolah dasar.

Praktiknya sederhana. Ajak anak menghitung buah saat belanja, mengenal warna dari pakaian yang dilipat, atau bercerita tentang kegiatan hari ini sebelum tidur. Belajar jadi bagian dari hidup, bukan sesi khusus yang menegangkan.

Peran Ibu di Rumah Lebih Strategis dari yang Dibayangkan

Wakil Sekretaris PP Fatayat NU, Hj. Kusnainik, M.AP., menyebut ibu memegang peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar anak sejak dari rumah.

"Kami meyakini bahwa ibu memiliki peran strategis dalam menghadirkan lingkungan yang mendukung proses belajar anak sejak dari rumah," ujarnya.

Kusnainik juga menekankan pentingnya ruang berbagi antar ibu. Bertukar pengalaman soal pengasuhan membantu ibu merasa tidak sendirian menghadapi tantangan mendampingi anak.

Kolaborasi lintas pihak juga disorot Veronica. Menurutnya, perempuan yang berdaya dapat menguatkan keluarga sekaligus komunitas di sekitarnya.

"Saya melihat bahwa perempuan yang berdaya dapat menguatkan keluarga dan juga komunitas. Karena itu, di tengah berbagai tantangan saat ini, kita perlu berkolaborasi dan saling menguatkan," katanya.

Momen Kebersamaan yang Bermakna, Bukan yang Mahal

Country Head of Corporate and Government Affairs Mondelz Indonesia Marfusita Hamburgiwati menambahkan, kebersamaan keluarga tidak perlu direncanakan rumit. Aktivitas sederhana seperti belajar dan bermain bersama sudah cukup membangun hubungan yang bermakna.

"Ketika kebersamaan dihadirkan melalui aktivitas seperti belajar dan bermain bersama, anak dapat merasa lebih nyaman untuk bereksplorasi, mencoba hal baru, dan mengembangkan potensinya," ujarnya.

Program OREO Berbagi Inspirasi bersama Fatayat NU mengangkat tema "Dorong Generasi SERU Tumbuh Lebih Bermakna Melalui Pembelajaran Seru" dalam kegiatan ini. Intinya satu: anak tumbuh optimal ketika merasa aman, dihargai, dan ditemani.

Kapan Ibu Perlu Mencari Bantuan

Setiap anak punya tempo tumbuh kembang berbeda. Namun, bila anak usia 2 tahun belum menunjukkan minat berinteraksi, sulit diajak bermain bersama, atau lambat berbicara dibanding anak seusianya, tidak ada salahnya berkonsultasi ke dokter anak atau psikolog.

Deteksi dini membantu ibu mendapat panduan yang sesuai kebutuhan anak. Bukan untuk melabeli, tapi untuk memastikan anak mendapat dukungan yang tepat sejak awal.

Mendampingi anak tidak menuntut kesempurnaan. Yang paling membekas adalah konsistensi ibu hadir, mendengar, dan menemani anak menjelajahi dunianya sedikit demi sedikit.

Reporter: Rendra