The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75-4 Persen, BI Punya Dua Skenario Respons

Kantor pusat Federal Reserve di Washington DC, Amerika Serikat.
Penulis: Farah
Kamis, 17 September 2026 | 08:21:01 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen, kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir. Keputusan ini memaksa Bank Indonesia memilih antara menahan bunga di 5,75 persen atau menaikkannya ke 6 persen demi menstabilkan rupiah dan mengendalikan inflasi.

Kenaikan Fed Rate diumumkan usai pertemuan dua hari Komite Kebijakan Moneter (FOMC) di Washington DC, Amerika Serikat, pada 15-16 September 2026. Komite mengambil keputusan dengan suara bulat.

"Komite memutuskan untuk menaikkan kisaran target suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen, sebagai bagian dari upaya mendukung mandat ganda Federal Reserve. Komite melanjutkan kebijakan mempertahankan cadangan yang memadai dalam sistem perbankan," kata The Fed dalam siaran persnya.

Merujuk laporan proyeksi ekonomi triwulanan terbaru, 16 dari 18 peserta rapat memperkirakan Fed Rate masih akan naik lagi dalam beberapa bulan ke depan. Inflasi di Amerika Serikat dinilai berisiko kembali meningkat.

Tekanan Ganda bagi Rupiah dan Inflasi Domestik

Kenaikan Fed Rate membuat aset berdenominasi dolar AS lebih atraktif. Dolar AS yang menguat menekan rupiah, sementara harga minyak bumi masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Kombinasi kedua faktor itu menekan Indonesia dari dua sisi sekaligus. Biaya utang dan arus modal tertekan oleh Fed Rate tinggi, sedangkan harga minyak mahal mendorong inflasi dan menggerus devisa.

Bank Indonesia berada di posisi sulit. Stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi harus dijaga, tetapi suku bunga tinggi berisiko menekan kredit, investasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dewan Gubernur BI dijadwalkan menggelar pertemuan pada 22-23 September 2026, sekitar enam hari setelah keputusan The Fed. Pada pertemuan sebelumnya, 18-19 Agustus 2026, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Skenario Pertama: BI Tahan Bunga di 5,75 Persen

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai BI tidak akan membuat kebijakan semata-mata berdasarkan Fed Rate. Menurut dia, BI juga memperhitungkan dinamika rupiah, arus modal, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), dan ekspektasi inflasi.

Dalam skenario pertama, BI tetap mempertahankan BI Rate di 5,75 persen. Syaratnya, kurs rupiah bertahan di kisaran Rp 17.400-Rp 17.700 per dolar AS, imbal hasil SBN 10 tahun stabil di 7,0-7,2 persen, arus asing ke SBN tetap positif, dan inflasi domestik tidak melonjak tajam.

"BI masih dapat menggunakan intervensi valas, pengelolaan SRBI, pengaturan likuiditas serta insentif transaksi lindung nilai untuk menjaga rupiah tanpa langsung menggunakan kenaikan bunga. Strategi BI sendiri memang mengutamakan kombinasi intervensi valas, pengelolaan struktur suku bunga pasar, likuiditas yang memadai dan insentif pendanaan valas," kata Josua.

Skenario Kedua: BI Naikkan Bunga ke 6 Persen

Josua menyiapkan skenario kedua jika tekanan eksternal memburuk. BI akan menaikkan suku bunga acuan ke 6 persen bila sejumlah syarat terpenuhi.

  • Fed Rate memberi sinyal akan melanjutkan tren kenaikan setelah September 2026
  • Imbal hasil surat utang AS mendekati atau melewati 5 persen
  • Harga minyak tetap di atas 100 dolar AS per barel
  • Rupiah melemah cepat menuju Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS
  • Terjadi arus keluar dari SBN

"Saya akan memandang kisaran rupiah tersebut dan kenaikan imbal hasil SBN 10 tahun ke sekitar 7,3-7,4 persen sebagai tanda tekanan yang perlu dicermati, bukan sebagai ambang resmi BI. Dalam skenario tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar mengikuti bank sentral AS, melainkan mencegah pelemahan rupiah berkembang menjadi inflasi impor dan arus keluar modal yang lebih besar," ujarnya.

BI Diprediksi Andalkan Bauran Kebijakan

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz berpendapat, kenaikan suku bunga acuan AS tidak serta-merta diikuti BI. Respons kebijakan BI akan mempertimbangkan selisih suku bunga yang kini terpaut 225-250 basis poin, nilai tukar, dan likuiditas domestik.

"BI kemungkinan tetap mengandalkan policy mix terlebih dahulu. BI masih memiliki ruang menggunakan intervensi di pasar spot, DNDF, pasar obligasi, serta instrumen untuk menjaga daya tarik aset rupiah," kata Irman di Jakarta.

Bagi pelaku pasar, arah keputusan BI pada 22-23 September menjadi kunci. Imbal hasil SBN, pergerakan rupiah, dan arus modal asing akan menentukan apakah BI cukup menahan bunga atau harus menaikkannya demi meredam tekanan eksternal.

Reporter: Farah