Makan Telur dan Kacang Saat Hamil, Bisakah Cegah Alergi Anak

Ibu hamil mengikuti uji coba PrEggNut untuk meneliti pengaruh konsumsi telur dan kacang terhadap risiko alergi bayi.
Penulis: Wahyu
Jumat, 25 September 2026 | 09:21:01 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Sebanyak 2.137 ibu hamil ikut dalam uji coba PrEggNut untuk menguji apakah konsumsi telur dan kacang berlebih saat hamil bisa menekan alergi bayi. Hasilnya dipublikasikan di New England Journal of Medicine dan memberi jawaban yang mungkin mengecewakan sebagian ibu. Simak penjelasan lengkapnya sebelum mengubah pola makan kehamilan Anda.

Uji coba acak PrEggNut melibatkan 2.137 perempuan hamil yang bayinya berisiko tinggi alergi karena riwayat keluarga. Para peneliti membagi mereka jadi dua kelompok dan meminta satu kelompok mengonsumsi setidaknya enam telur serta 60 kacang tanah setiap minggu, dimulai sebelum usia kehamilan 23 minggu hingga empat bulan setelah melahirkan.

Kelompok pembanding hanya makan tidak lebih dari tiga telur dan 30 kacang tanah per minggu. Ketika bayi berusia 1 tahun, peneliti menguji alergi telur dan kacang tanah di rumah sakit lewat tes tusuk kulit, lalu dilanjutkan tantangan makanan bila hasilnya positif.

Hasil Uji Coba PrEggNut

Diet tinggi alergen selama kehamilan dan laktasi tidak menurunkan risiko alergi bayi secara signifikan. Sebanyak 7,8 persen bayi dari kelompok asupan tinggi mengembangkan alergi telur atau kacang tanah, dibandingkan 8,4 persen pada kelompok standar.

Alergi telur terjadi pada 6,2 persen bayi kelompok asupan tinggi dan 7,2 persen kelompok standar. Untuk alergi kacang tanah, angkanya identik di kedua kelompok, yaitu 2,6 persen. Tingkat eksim bayi juga sebanding.

Mengapa Paparan Sejak Dini Sempat Dianggap Efektif

Selama bertahun-tahun, menghindari makanan pencetus alergi sejak awal dianggap cara terbaik mencegah alergi. Pandangan itu mulai bergeser setelah beberapa uji coba menunjukkan bahwa memperkenalkan makanan alergen lebih awal justru bisa membangun toleransi, bukan memicu reaksi.

Selama kehamilan, janin menelan alergen makanan yang ada dalam cairan amnion. Setelah lahir, bayi bertemu kembali dengan protein yang sama lewat ASI. Pola paparan alami ini membuat peneliti menduga kehamilan dan laktasi dini adalah jendela ketika sistem kekebalan bayi belajar mentoleransi makanan.

Namun, uji coba PrEggNut tidak menemukan bukti bahwa menambah asupan telur dan kacang selama kehamilan memberi perlindungan ekstra. Beberapa bayi rentan alergi bahkan sudah menunjukkan respons imun terhadap telur pada usia 4 bulan.

Kapan Sebaiknya Perkenalkan Makanan Alergen

Pedoman yang berlaku saat ini merekomendasikan pengenalan makanan alergen pada usia 4 hingga 6 bulan. Sebagian peneliti menilai rentang itu bisa terlambat untuk bayi dengan risiko alergi tinggi, karena sistem kekebalan mereka sudah bereaksi lebih dulu.

Yang perlu diingat, temuan ini tidak berarti ibu hamil boleh mengabaikan asupan gizi seimbang. Telur tetap sumber protein dan kolin yang baik untuk perkembangan janin. Kacang tanah juga menyediakan lemak sehat dan folat.

Kuncinya adalah porsi wajar, bukan berlebihan demi mengejar efek pencegahan alergi yang belum terbukti. Fokus penelitian ke depan diarahkan pada panduan pemberian makan bayi yang berbasis bukti, bukan sekadar menambah satu jenis makanan selama kehamilan.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter

Bila Anda punya riwayat alergi keluarga, diskusikan rencana pemberian makan bayi dengan dokter anak. Jangan memulai tantangan makanan alergen sendiri di rumah, terutama bila bayi pernah menunjukkan reaksi seperti ruam, muntah, atau sesak setelah makan.

Ibu hamil dengan alergi telur atau kacang tanah tetap harus menghindari makanan tersebut sesuai anjuran dokter. Menambah asupannya tanpa konsultasi justru berisiko memicu reaksi pada ibu sendiri.

Hasil uji coba PrEggNut menegaskan satu hal sederhana: alergi anak tidak bisa dicegah hanya dengan mengubah pola makan ibu selama hamil. Yang lebih penting adalah pemantauan tumbuh kembang bayi dan konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan.

Reporter: Wahyu