Polda Jateng dan Unnes Tanam 1.000 Bibit Kopi di Lereng Sumbing Magelang untuk Perkuat Ekosistem

Sebanyak 1.000 bibit pohon kopi ditanam di kawasan wisata Nepal Van Java, lereng Gunung Sumbing, Magelang, Jumat.
Penulis: Farah
Jumat, 28 Agustus 2026 | 23:35:32 WIB

Kepolisian Daerah Jawa Tengah bersama Universitas Negeri Semarang (Unnes) menanam 1.000 bibit pohon kopi di kawasan wisata Nepal Van Java, lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Magelang, Jumat. Langkah ini bertujuan menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong diversifikasi tanaman bernilai ekonomi bagi warga setempat.

MAGELANG — Kawasan wisata Nepal Van Java yang selama ini dikenal dengan hamparan kebun sayur di lereng Gunung Sumbing, kini mulai disisipi tanaman keras. Sebanyak 1.000 bibit kopi ditanam sebagai upaya memperkuat struktur tanah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani setempat.

Direktur Intelkam Polda Jateng, Kombes Pol Syahbuddin, menyebut langkah ini bagian dari tanggung jawab bersama menjaga destinasi alam yang luar biasa tersebut. Menurutnya, kesuburan tanah di ketinggian lereng Sumbing tidak hanya bisa diandalkan untuk sayuran, tetapi juga komoditas lain yang lebih tahan lama.

"Kita tahu daerah Nepal Van Java ini daerah wisata alam yang luar biasa. Tugas kita selaku masyarakat, warga di sini adalah memeliharanya," ujarnya di Magelang, Jumat.

Kopi Jadi Penyeimbang Lahan Sayur di Lereng Tebing

Penanaman kopi dinilai menjadi solusi atas persoalan struktur tanah di kawasan miring. Tanaman sayur yang menjadi andalan warga memiliki sistem perakaran dangkal, sehingga kurang mampu menahan tanah di tebing saat hujan deras.

Kombes Syahbuddin menegaskan bahwa pengembangan budidaya kopi tidak semata-mata untuk mengejar nilai ekonomi. Keberadaan pohon kopi dengan akar yang lebih kuat diharapkan mampu membantu menjaga kestabilan tanah di area yang rawan longsor ini.

Teknologi Pengairan Jadi Jaminan Tanaman Bertahan di Musim Kemarau

Ketua Pusat Unggulan Ipteks Perguruan Tinggi (PUI PT) Pasca Panen Kopi dan Rempah Unnes, Eka Yuli Astuti, memastikan bibit kopi tetap bisa tumbuh meski ditanam pada musim kemarau. Hal itu dimungkinkan berkat dukungan teknologi pertanian yang kini diterapkan di lapangan.

Para petani tidak hanya menerima bantuan bibit, tetapi juga pendampingan teknis. "Hari ini kita memberi kepada petani 1.000 bibit, mungkin besok akan 10.000 bibit. Mereka menanam kopi ini sudah ada jaminan, pertama teknologi pengolahan, teknologi pengairan supaya tanaman tetap hidup, bisa teknik tetes atau semprot," jelas Eka.

Teknologi irigasi tetes dan semprot menjadi kunci utama agar tanaman kopi yang baru ditanam tidak mati kekeringan. Dengan perawatan yang tepat, bibit-bibit ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang bagi warga yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil bumi di lereng gunung.

Program ini menjadi contoh kolaborasi antara aparat keamanan dan akademisi dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Ke depan, pengembangan kopi di kawasan wisata tersebut berpotensi menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Nepal Van Java.

Reporter: Farah