Golkar Yakin Gus Kikin Rekatkan NU Usai Muktamar ke-35
SPIRITBANGSA.COM — Muhammad Sarmuji mengucapkan selamat kepada Rais Aam terpilih KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Keduanya ditetapkan melalui musyawarah mufakat sembilan kiai sepuh dan kiai khos yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 NU.
Pilihan Sembilan Kiai dan Tugas Merekatkan Faksi
Keputusan AHWA diambil di tengah dinamika muktamar yang sempat memanaskan suhu internal organisasi. Sarmuji menilai mekanisme ini menghasilkan duet yang saling melengkapi.
"Kami yakin Kiai Miftach dan Gus Kikin bisa membawa NU untuk terus menjaga persatuan bangsa," kata Sarmuji dalam keterangan persnya.
Ia menambahkan, pemimpin baru PBNU mengemban tugas berat untuk merekatkan kembali faksi yang sempat terbelah. Sarmuji meyakini Gus Kikin mampu tampil sebagai penghubung antar kelompok di internal PBNU.
"Kami yakin Gus Kikin bisa menjadi sosok yang akomodatif, merangkul semua kelompok di PBNU yang mungkin sempat memanas karena muktamar," ucapnya.
Karakter yang Dianggap Modal Menyatukan Nahdliyin
Penilaian Sarmuji tidak berhenti pada kapasitas organisasi. Ia menyoroti kualitas personal putra almarhum KH Mahfudz Anwar tersebut sebagai modal utama.
"Kami mengenal sosok Gus Kikin sangat bijaksana, teladan yang bisa membawa NU guyub, adem bagi semuanya," tambah Sarmuji.
Ia berharap kepemimpinan baru dapat menjadikan PBNU rumah besar yang teduh bagi umat serta harapan baru bagi warga Nahdliyin dalam menjaga keutuhan NKRI.
Garis Ideologi dan Semangat Kebangsaan NU
Sarmuji turut menitipkan pesan agar pengurus baru konsisten pada dua haluan utama organisasi: menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dan memperkuat kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Juga PBNU akan terus menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus memperkuat kecintaan pada NKRI," tandasnya.
"Saya berharap NU terus menjadi kabar gembira bagi bangsa Indonesia dan warga Nahdliyin bisa bangga menjadi anggotanya," ungkapnya.
Muktamar ke-35 NU yang digelar di Lampung menjadi ajang pemilihan kepemimpinan periode 2026-2031. Penetapan melalui AHWA menandai kelanjutan tradisi musyawarah kiai dalam menentukan arah organisasi, berbeda dari mekanisme pemilihan langsung yang sempat diwacanakan sebelumnya.