Sinyal Hawkish The Fed di Jackson Hole Menggerus Rupiah ke Rp17.750,9; Pasar Incar Data Inflasi dan Suksesi Gubernur BI

Rupiah melemah ke Rp17.750,9 per dolar AS setelah pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh soal inflasi.
Penulis: Farah
Rabu, 02 September 2026 | 11:39:31 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyatakan masih ada "pekerjaan rumah" untuk mengendalikan inflasi. Pernyataan itu langsung mengubah arah ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS. Probabilitas kenaikan 25 basis poin pada pertemuan September melonjak ke 57,5%, dari sebelumnya sekitar 35%.

Dampaknya terasa di pasar global. Indeks dolar menguat, aset berdenominasi dolar semakin menarik, sementara aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia ikut terbatas.

Perdagangan Rupiah: Rentang Lebar dan Tekanan Jangka Pendek

Dolar AS membuka perdagangan di level Rp17.685,0 dan sempat menyentuh titik terendah Rp17.690,0. Puncak harian tercatat di Rp17.776,6 sebelum akhirnya ditutup di Rp17.750,9.

Posisi ini masih jauh dari level terkuat rupiah dalam setahun terakhir. Dalam 52 pekan, pasangan USD/IDR berayun antara Rp16.294,0 hingga rekor tertinggi Rp18.197,5.

Data historis menunjukkan pola yang menarik. Dolar AS menguat tajam sejak Februari dan menembus Rp18.000 pada Juni. Koreksi terjadi pada Juli-Agustus, namun momentum rebound kini kembali terbentuk. Harga bergerak di atas rata-rata penutupan sebelumnya, menandakan tekanan jual terhadap rupiah masih dominan.

Agenda Domestik: Suksesi BI dan Data Inflasi

Pelaku pasar domestik mencermati dua agenda penting pekan ini. Sidang parlemen pada 1 September akan menetapkan jajaran pimpinan Bank Indonesia, termasuk calon Gubernur Destry Damayanti beserta deputi gubernur. Proses ini menentukan kesinambungan arah kebijakan moneter.

Data inflasi nasional yang rilis awal September juga menjadi penentu langkah BI selanjutnya. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai indikator ini krusial. "Data inflasi nasional menjadi indikator krusial bagi Bank Indonesia menentukan arah kebijakan moneter," ujarnya. Kekhawatiran atas biaya distribusi dan pasokan pangan dinilai masih membebani pergerakan rupiah.

Sebelum merosot pada Senin, rupiah sempat menguat pada Jumat (28/8) ketika dolar AS turun ke Rp17.689. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut penguatan itu dipicu meredanya aksi demonstrasi. Ia memperkirakan rupiah bakal bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800, dengan pelaku pasar wait and see sebelum pidato pejabat The Fed.

Alternatif Diversifikasi saat Dolar Menguat

Fluktuasi nilai tukar yang tinggi kerap mendorong investor mencari instrumen lindung nilai. Stablecoin yang dipatok 1:1 dengan dolar AS, seperti Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), menjadi opsi yang semakin umum digunakan. Melalui aplikasi Pintu, investor dapat mengakses aset digital ini tanpa perlu bertransaksi di money changer fisik. Penyimpanan stablecoin tersebut juga menawarkan peluang imbal hasil tambahan melalui fitur yang tersedia di platform.

Reporter: Farah