Pengetahuan Gizi Santri Sunan Drajat Meningkat 20 Poin Usai Program UNUSA, Edukasi Piring Sehat hingga Jalan Kaki
Pengetahuan santri Pondok Pesantren Sunan Drajat tentang pola makan dan aktivitas fisik meningkat rata-rata 20 poin, dari skor 58 menjadi 78, setelah mengikuti program pengabdian masyarakat oleh Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Kenaikan 34,5 persen ini melampaui target program sebesar 20 persen dan diproyeksikan mampu menekan risiko obesitas serta penyakit metabolik sejak usia remaja.
SURABAYA — Hasil evaluasi terhadap 10 santri putra berusia 16–17 tahun di Pondok Pesantren Sunan Drajat menunjukkan peningkatan pemahaman gizi yang signifikan. Delapan peserta tercatat memperoleh nilai lebih tinggi pada tes akhir, sementara dua peserta lainnya mempertahankan skor awal. Tidak ada satupun peserta yang mengalami penurunan nilai.
Koordinator Program Pengabdian Masyarakat UNUSA, dr. Evi Sylvia Awwalia, Sp.PD, menyebut kenaikan nilai rata-rata dari 58 menjadi 78 tersebut setara dengan 34,5 persen. Angka ini jauh melampaui target minimal program yang ditetapkan sebesar 20 persen.
Mengapa Remaja Pesantren Menjadi Sasaran Program?
Menurut dr. Evi, masa remaja merupakan periode krusial untuk membentuk kebiasaan hidup sehat yang akan terbawa hingga dewasa. Intervensi sejak dini dinilai lebih efektif untuk mencegah obesitas dan risiko penyakit metabolik di kemudian hari.
Program yang dijalankan bersama dr. Effendy, Sp.PD, serta mahasiswa UNUSA ini tidak hanya berhenti pada edukasi di ruang kelas. Tim pengabdian masyarakat turun langsung mendampingi pengelolaan menu harian di dapur dan kantin pesantren.
Materi Piring Sehat dan Praktik Menyusun Menu
Dalam sesi edukasi, santri diperkenalkan dengan konsep piring sehat yang mencakup empat komponen utama: sumber karbohidrat, protein hewani atau nabati, sayur, dan buah. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana dengan contoh menu yang dekat dengan keseharian santri.
Pendekatan ini diperkuat melalui metode SIAGA MANIS, singkatan dari Skrining, Edukasi, dan Gerakan Pencegahan Diabetes serta Sindrom Metabolik. Santri juga dilatih menyusun contoh piring sehat menggunakan gambar bahan makanan sebelum menjalani tes akhir untuk mengukur pemahaman mereka.
Menu Tujuh Hari dan Gerakan Langkah Santri Sehat
Tim UNUSA membantu pengurus pesantren menyusun contoh menu tujuh hari yang lebih seimbang. Penyusunan menu memperhatikan ketersediaan bahan, kebiasaan makan santri, serta kemampuan anggaran pesantren agar perubahan dapat diterapkan secara konsisten.
Untuk mendorong aktivitas fisik, tim memperkenalkan program bernama "Gerakan Langkah Santri Sehat". Kegiatan ini berupa jalan kaki berkelompok selama 20–30 menit per sesi, yang direkomendasikan dilakukan tiga kali dalam sepekan sebelum atau setelah kegiatan belajar.
Pemantauan Status Gizi dan Kader Kesehatan Pesantren
Selain aspek makanan dan gerak, program ini mengenalkan pemantauan sederhana status gizi melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), serta tekanan darah. Pemeriksaan gula darah sewaktu dapat dilakukan apabila sarana di pesantren tersedia.
Evi menekankan bahwa peningkatan pengetahuan harus diikuti dengan pemantauan berkelanjutan terhadap komposisi menu, keteraturan aktivitas fisik, dan status gizi santri. Karena itu, para santri senior dan pengurus dilibatkan untuk menjadi kader kesehatan pesantren yang bertugas membantu pengukuran, menyampaikan pesan kesehatan, dan mengingatkan jadwal kegiatan.
Kolaborasi antara UNUSA dan Pondok Pesantren Sunan Drajat ini diharapkan mampu memperkuat penerapan pola makan seimbang secara konsisten, sehingga santri dapat menjaga kebugaran dan menekan risiko penyakit tidak menular.