Rupiah Melemah ke Rp17.650 per Dolar AS Tertekan Data Tenaga Kerja Paman Sam
SPIRITBANGSA.COM — Tekanan eksternal kembali membebani pasar valuta asing domestik pada awal pekan. Berdasarkan pantauan pasar pada Senin (7/9) pagi, rupiah dibuka terdepresiasi 8 poin atau 0,05 persen ke level Rp17.650 per dolar AS. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) yang melampaui ekspektasi konsensus pasar.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa data tenaga kerja AS yang solid memberi amunisi baru bagi dolar AS untuk melakukan reli teknikal. Kondisi tersebut memaksa mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, bergerak defensif.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang rebound setelah data pekerjaan AS NFP yang lebih kuat dari perkiraan. Namun, pelemahan diperkirakan terbatas, dengan investor wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (7/9).
Untuk perdagangan hari ini, pergerakan mata uang Garuda diproyeksikan bergerak dalam rentang konsolidasi antara Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. Pelaku pasar cenderung berhati-hati sebelum otoritas moneter merilis posisi cadangan devisa resmi per akhir bulan lalu.
Sentimen Regional dan Mayoritas Kurs Asia Tertekan
Koreksi yang dialami rupiah mencerminkan tren pelemahan mata uang regional. Sebagian besar mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak di zona merah terhadap keperkasaan greenback:
- Ringgit Malaysia: terdepresiasi 0,15 persen
- Peso Filipina: melemah 0,15 persen
- Dolar Singapura: turun 0,07 persen
- Yuan China: terkoreksi tipis 0,03 persen
Meskipun demikian, ada beberapa mata uang Asia yang berhasil melawan arus penguatan dolar AS. Won Korea Selatan tercatat terapresiasi 0,25 persen, sementara yen Jepang menguat 0,15 persen. Adapun dolar Hong Kong terpantau bergerak stabil tanpa perubahan signifikan.
Mata Uang Utama Negara Maju Ikut Tergerus
Tekanan penguatan dolar AS pasca-rilis data NFP tidak hanya memukul pasar negara berkembang, tetapi juga menjalar ke instrumen mata uang utama dunia. Mayoritas kurs negara maju tergelincir ke zona negatif pada sesi perdagangan yang sama.
Poundsterling Inggris dan franc Swiss masing-masing mencatatkan penurunan 0,05 persen. Pelemahan juga menjalar ke euro Eropa serta dolar Australia yang keduanya terdepresiasi 0,01 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, dolar Kanada menunjukkan ketahanan dengan bergerak relatif stabil.
Arah pergerakan rupiah pada penutupan perdagangan sore nanti akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap besaran cadangan devisa domestik. Angka cadev menjadi indikator krusial bagi investor untuk mengukur kapasitas Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs dari guncangan eksternal.
Investasi mengandung risiko.