PDPI Petakan Lima Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan Fisik

Warga beraktivitas di tengah hujan abu vulkanik yang menyelimuti wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Penulis: Redaksi
Senin, 07 September 2026 | 18:39:02 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengancam organ pernapasan hingga memicu sensasi tercekik atau asfiksia pada kondisi ekstrem. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengingatkan sebaran debu halus dan gas vulkanik tersebut dapat berdampak luas terhadap fisik warga. Warga diimbau membatasi aktivitas luar ruang serta menjaga sanitasi konsumsi harian.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus perwakilan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, merinci setidaknya lima dampak medis yang patut diantisipasi selama fase erupsi berlangsung. Ancaman ini tidak hanya tertuju pada organ respirasi, melainkan merembet ke indra penglihatan, kulit, dan saluran cerna.

Penetrasi Partikel PM 2.5 dan Kerusakan Jaringan Paru

Bahaya utama abu vulkanik bersumber dari kandungan partikel halus berukuran 2,5 mikrometer (PM 2.5). Ukuran yang amat kecil ini memungkinkan material padat menembus sistem penyaringan hidung hingga mencapai alveolus di paru-paru.

Masuknya partikel silika dan mineral tajam tersebut memicu iritasi tenggorokan, batuk terus-menerus, serta gejala peradangan seperti bronkitis. Situasi ini jauh lebih berisiko bagi warga yang memiliki riwayat penyakit paru kronis, sebab paparan abu dapat mempercepat eksaserbasi atau perburukan kondisi klinis secara mendadak.

Risiko Asfiksia Akut dan Paparan Gas Sulfur Dioksida

Pada area yang berdekatan dengan pusat letusan, densitas debu di udara dapat mencapai level ekstrem. Prof Tjandra memperingatkan ancaman asfiksia, yakni kondisi kekurangan oksigen fatal yang menimbulkan sensasi tercekik akibat saluran napas tersumbat material pekat.

Selain abu padat, aktivitas vulkanik menyemburkan gas beracun seperti sulfur dioksida (SO2). Senyawa kimia yang terbawa udara ini kerap menimbulkan keluhan neurologis dan respirasi bersamaan, mulai dari pusing, nyeri kepala hebat, hingga gangguan napas lanjutan.

Iritasi Eksternal dan Kontaminasi Rantai Makanan

Organ luar tubuh rentan mengalami kerusakan mekanis akibat sifat abu vulkanik yang abrasif. Kontak langsung antara serpihan debu dengan permukaan tubuh memicu iritasi kulit serta peradangan bola mata, dengan tingkat keparahan mencapai konjungtivitis bila terjadi gesekan berlebih.

Ancaman lain yang kerap luput adalah kontaminasi pada rantai konsumsi harian. Hujan abu yang mengotori tampungan air terbuka serta bahan pangan dapat mengganggu sistem pencernaan jika tertelan.

Guna meminimalkan risiko keracunan dan infeksi cerna, masyarakat diminta memastikan kebersihan wadah air dan bahan makanan sebelum diolah. Warga juga dianjurkan bertahan di dalam ruangan serta menghindari mobilitas luar rumah selama abu vulkanik masih pekat menggantung di udara.

Reporter: Redaksi