Kesehatan Usus Bukan Cuma Soal Pencernaan, Ini Kaitannya dengan Mood

Ilustrasi makanan sehat seperti sayuran, buah, dan biji-bijian utuh yang mendukung keseimbangan mikrobioma usus.
Penulis: Galih
Selasa, 08 September 2026 | 12:21:01 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Selama ini kita sering menganggap kesehatan usus hanya urusan lancar atau tidaknya buang air besar. Padahal, di dalam saluran pencernaan hidup triliunan mikroorganisme yang membentuk gut microbiome—dan mereka bekerja jauh lebih kompleks dari sekadar memproses makanan.

Lewat saraf vagus, sistem hormon, hingga sistem imun, usus dan otak saling "berbicara". Penelitian terbaru bahkan mulai mengaitkan kondisi mikrobioma dengan respons stres, kecemasan, hingga gejala depresi. Menariknya, sekitar 90 persen serotonin—hormon yang sering dikaitkan dengan kebahagiaan—diproduksi di usus, bukan di otak.

Keragaman Bakteri Usus dan Kesehatan Mental

Studi menunjukkan orang dengan depresi cenderung memiliki keragaman mikrobioma yang lebih rendah. Sementara itu, beberapa riset menemukan probiotik berpotensi membantu meredakan gejala kecemasan dan depresi—meski buktinya masih terus berkembang.

Yang perlu digarisbawahi: menjaga kesehatan usus bukan pengganti penanganan kesehatan mental profesional. Ini lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari upaya mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Kenali Tanda-Tanda Usus Sedang "Protes"

Gut health yang bermasalah tidak selalu muncul sebagai gangguan pencernaan. Beberapa perubahan halus bisa jadi petunjuk: mudah iritabilitas, kelelahan yang tidak biasa, sakit kepala, perut kembung, sembelit, sampai perubahan pola buang air besar.

Rasa lelah berkepanjangan juga bisa berkaitan dengan gangguan penyerapan nutrisi. Brain fog atau sulit berkonsentrasi kerap muncul bersamaan, meski faktor lain di luar usus juga bisa menyebabkannya. Perubahan sensitivitas terhadap makanan dan masalah kulit tertentu juga masuk daftar tanda yang perlu diwaspadai.

Makanan yang Mendukung Bakteri Baik

Pola makan adalah faktor terbesar yang bisa kita kendalikan. Biji-bijian utuh, buah, sayuran seperti kale, serta makanan kaya omega-3—ikan, chia seed, flaxseed, kenari—merupakan pilihan yang mendukung keberadaan bakteri baik.

Jangan lupakan prebiotik dan probiotik dari yogurt serta makanan fermentasi. Serat dari sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh membantu pencernaan teratur sekaligus menjadi "makanan" bagi mikroorganisme usus.

Sebaliknya, batasi makanan ultra-proses, tinggi gula, serta makanan berlemak atau digoreng. Pola makan ini cenderung rendah serat dan bisa memicu peradangan. Kabar baiknya, perubahan pola makan bisa memengaruhi komposisi mikrobioma dalam hitungan hari—meski efeknya ke suasana hati butuh waktu lebih lama.

Gaya Hidup Juga Ikut Menentukan

Kesehatan usus tidak hanya soal isi piring. Stres kronis dan kurang tidur terbukti bisa menekan bakteri menguntungkan sekaligus meningkatkan peradangan. Aktivitas fisik teratur membantu menjaga keseimbangan mikrobioma.

Cukupi kebutuhan cairan, tetap aktif bergerak, tidur cukup, dan kelola stres dengan baik. Semua ini bisa dilakukan sebagai rutinitas harian—tanpa perlu menjadikan gut health sebagai target instan yang bikin stres.

Satu catatan penting: jika keluhan pencernaan terus berlanjut meski sudah menerapkan kebiasaan sehat, jangan langsung men

Reporter: Galih