Uzbekistan Jadi Jalur Wisata Religi Baru, Bukhara dan Samarkand Ditawarkan ke Wisatawan Indonesia

Kunjungan ke Samarkand dan Bukhara membahas peluang kerja sama bidang keagamaan dan pendidikan.
Penulis: Doni
Kamis, 10 September 2026 | 11:01:01 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Irfan mengunjungi Samarkand dan Bukhara sebelum bertemu sejumlah pejabat setempat. Agenda utamanya membahas peluang penguatan hubungan bilateral lewat warisan peradaban dan tradisi keilmuan Islam. Bidang keagamaan dan pendidikan jadi fokus utama pembicaraan.

Mengapa Bukhara dan Samarkand Istimewa bagi Wisatawan Indonesia

Kedua kota ini dikenal sebagai pusat perkembangan peradaban dan keilmuan Islam di Asia Tengah. Banyak tokoh besar lahir dari wilayah ini dan namanya akrab di kalangan umat Islam Indonesia. Dua di antaranya yang disebut Irfan adalah Imam Bukhari dan Imam Bahauddin An-Naqsyabandi.

Imam Bukhari merupakan perawi hadis yang karyanya, Sahih Bukhari, jadi rujukan utama umat Islam dunia, termasuk Indonesia. Sementara Syekh Bahauddin An-Naqsyabandi adalah pendiri Tarekat Naqsyabandiyah yang punya banyak pengikut di Nusantara. Jejak keduanya masih bisa ditemui di kompleks bersejarah Bukhara dan Samarkand.

"Bukhara dan Samarkand memiliki tempat tersendiri di masyarakat Indonesia. Banyak tokoh yang datang dari daerah ini yang dikenal di Indonesia," ujar Irfan.

Potensi Wisata Religi dan Pertukaran Keilmuan

Kedekatan historis ini dinilai bisa jadi pintu masuk penguatan hubungan masyarakat kedua negara. Irfan menyoroti pertukaran pengalaman dan pengetahuan soal tradisi keilmuan Islam sebagai salah satu bentuk kerja sama yang bisa dikembangkan.

Warisan keilmuan yang tumbuh di Uzbekistan, menurutnya, dapat memperkuat hubungan kedua masyarakat. Bagi traveler Indonesia, ini membuka peluang wisata religi yang berbeda dari paket umrah atau haji biasa.

Yang Bisa Dijelajahi di Bukhara dan Samarkand

Bukhara dan Samarkand merupakan kota tua di Jalur Sutra yang arsitekturnya masih terjaga. Bangunan madrasah, masjid, dan mausoleum berlapis keramik biru jadi daya tarik utama. Beberapa situs bersejarah di kedua kota ini telah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO.

Kunjungan ke makam Imam Bukhari di Samarkand dan kompleks Bahauddin Naqsyabandi di Bukhara jadi agenda yang banyak dicari peziarah. Kota-kota ini juga terhubung dengan penerbangan dari Tashkent, ibu kota Uzbekistan.

Tips Merencanakan Kunjungan

Waktu terbaik berkunjung ke Uzbekistan adalah musim semi (April–Mei) atau musim gugur (September–Oktober), saat cuaca tidak terlalu ekstrem. Jarak Samarkand ke Bukhara sekitar 270 kilometer dan bisa ditempuh dengan kereta cepat Afrosiyob dalam waktu sekitar dua jam.

Untuk informasi terkini soal visa, paket wisata religi, dan rute penerbangan, wisatawan disarankan mengonfirmasi langsung ke kedutaan besar atau dinas pariwisata setempat. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah tengah menjajaki kerja sama yang bisa mempermudah akses ke wilayah ini.

Durasi ideal menjelajahi Bukhara dan Samarkand adalah tiga hingga empat hari untuk menuntaskan situs utama tanpa terburu-buru.

Reporter: Doni