SPIRITBANGSA.COM — Abdul Mu'ti menyatakan bahwa pengalaman di dunia kerja justru harus menjadi bagian integral dari proses belajar, bukan pemisah dari kurikulum akademik. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangannya pada Senin (14/9).
Kesenjangan Capaian Matematika dan Bahasa Inggris
Urgensi penguatan kompetensi dasar terlihat jelas dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMK Tahun 2025. Data tersebut menunjukkan rerata capaian murid pada mata pelajaran Matematika hanya mencapai angka 34,84.
Sementara itu, skor untuk Bahasa Inggris tercatat lebih rendah lagi, yakni 22,69. Berbeda dengan dua mata pelajaran eksak dan asing tersebut, kemampuan Bahasa Indonesia murid SMK masih berada di level moderat dengan rerata 53,68.
Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026 mengonfirmasi data tersebut. Angka-angka ini menyoroti tantangan besar dalam memastikan dukungan pembelajaran tetap tersedia ketika murid berada di lokasi industri.
Pendekatan Asinkron sebagai Solusi Fleksibilitas
Mu'ti mengusulkan model pembelajaran asinkron sebagai jalan tengah. Melalui metode ini, murid dapat mengakses materi dan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa harus mengikuti jadwal guru secara bersamaan.
Guru diharapkan menyediakan video pembelajaran, modul ringkas, lembar kerja, hingga jurnal refleksi yang bisa dikerjakan sesuai waktu luang murid. Namun, ia mengingatkan bahwa fleksibilitas tidak berarti hilangnya arahan.
"Fleksibilitas bukan berarti tanpa arahan. Guru tetap memiliki peran penting dalam menetapkan tujuan pembelajaran, memberikan instruksi, memantau perkembangan, dan memberikan umpan balik kepada murid," kata Mu'ti.
Literasi dan Numerasi di Tengah Budaya Kerja
Dua kemampuan fundamental, literasi dan numerasi, dinilai krusial untuk terus dikembangkan selama PKL berlangsung. Mu'ti menjelaskan bahwa literasi digunakan saat murid membaca prosedur kerja, memahami petunjuk peralatan, serta menyusun laporan teknis.
Adapun numerasi dibutuhkan dalam aktivitas harian seperti menghitung kebutuhan bahan, menentukan ukuran, membaca tabel grafik, hingga memperkirakan biaya proyek. Kedua skill ini menjadi fondasi berpikir kritis dan pengambilan keputusan efektif.
"Literasi dan numerasi merupakan kemampuan fundamental. Keduanya diperlukan bukan hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja," ucap dia.
Pemerintah berharap kelas XII SMK tetap menjalani pendidikan formal sambil menyerap disiplin, tanggung jawab, dan keselamatan kerja di tempat magang. Tujuannya adalah membentuk lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga kuat dalam bernalar.