Pabrik Baterai CATIB Karawang Resmi Beroperasi, Pasok 6,9 GWh untuk EV dan BESS
SPIRITBANGSA.COM — Indonesia Battery Corporation (IBC) mengonfirmasi pabrik baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang telah beroperasi sejak Juli 2026. Fasilitas hasil patungan dengan CBL ini menjadi produsen sel baterai kendaraan listrik terbesar kedua di Indonesia setelah HLI Green Power. Kapasitas tahap awal mencapai 6,9 GWh, menyuplai kebutuhan energi untuk mobil listrik dan sistem penyimpanan daya.
Pengumuman operasional penuh fasilitas produksi sel baterai ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, dalam acara Sosialisasi MediaMind 2026 di Energy Building, Jakarta, Senin (14/9). Kehadiran pabrik ini menandai percepatan realisasi ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir yang digadang-gadang menjadi tulang punggung industri otomotif nasional.
Kapasitas Produksi dan Target Ekspansi
Berdiri di atas lahan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), konstruksi pabrik dimulai pada 29 Juni 2025. Dengan masa pembangunan hanya sekitar 13 bulan hingga siap operasi, kecepatan ini menunjukkan urgensi transisi energi di sektor otomotif. Saat ini, kapasitas produksi berjalan berada di angka 6,9 Giga Watt hour (GWh).
Rencana jangka panjang menetapkan total kapasitas tumbuh hingga 15 GWh secara bertahap. Fase kedua ditargetkan beroperasi pada 2028. Angka tersebut diproyeksikan mampu memasok daya untuk sekitar 250.000 unit kendaraan listrik per tahun. Nilai investasi pengembangan hingga kapasitas penuh diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar atau setara Rp21,17 triliun berdasarkan kurs Rp17.641 per dolar AS.
Fokus Produk: Kendaraan Listrik dan Penyimpanan Energi
Berbeda dengan beberapa kompetitor yang fokus murni pada otomotif, CATIB menerapkan strategi diversifikasi produk. "Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk BESS, Battery Energy Storage System," ujar Aditya. Sistem penyimpanan energi ini krusial untuk stabilisasi jaringan listrik nasional seiring meningkatnya penggunaan sumber energi terbarukan.
Desain pabrik dibuat terintegrasi secara fisik. Fasilitas produksi sel baterai membentang sepanjang satu kilometer, terhubung langsung dengan area pengemasan (packing). Material baterai diolah menjadi sel, lalu dikemas tanpa perlu perpindahan lokasi jauh, guna efisiensi logistik internal.
Transfer Teknologi dan Komitmen Lingkungan
Untuk memastikan kualitas standar global, IBC memberangkatkan 600 karyawan ke China dalam program transfer pengetahuan (knowledge transfer). Langkah ini bertujuan mempercepat adopsi teknologi manufaktur canggih dari induk perusahaan, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).
Dari sisi keberlanjutan, pabrik ini tidak hanya mengandalkan listrik grid biasa. Rencana pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MWp dijadwalkan terealisasi pada 2027. Hal ini sejalan dengan komitmen ramah lingkungan dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Bagian dari Ekosistem Hulu-Hilir Terintegrasi
Operasional CATIB merupakan bagian dari konsorsium besar antara PT Aneka Tambang (Antam), IBC, dan CBL dengan total investasi awal US$ 5,9 miliar (Rp104,08 triliun). Struktur bisnis dibagi dalam enam usaha patungan (Joint Venture/JV) yang mencakup seluruh siklus hidup baterai:
- JV 1 (Pertambangan Nikel): Dikelola PT Sumberdaya Arindo, sudah berproduksi sejak 2023 dengan target 13,8 juta wet metric ton.
- JV 2 & JV 3 (Smelter): PT Feni Haltim (RKEF) dan PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL) masing-masing ditargetkan beroperasi pada 2027 dan 2028.
- JV 4 (Material Baterai): Lokasi di Halmahera Timur, memproduksi bahan katoda dan prekursor terner, target operasi 2028.
- JV 5 (Sel Baterai/CATIB): Lokasi di Karawang, fase 1 beroperasi 2026, fase 2 pada 2028.
- JV 6 (Daur Ulang): Fasilitas daur ulang logam bekas baterai di Halmahera Timur, target operasi 2031.
Integrasi vertikal ini diharapkan mengurangi ketergantungan impor komponen kunci dan menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi Indonesia, sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam rantai pasok baterai dunia.