Disgrafia pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
SPIRITBANGSA.COM — Kesulitan menulis sering dianggap anak malas atau kurang latihan, padahal bisa jadi tanda disgrafia. Kenali penyebab, gejala, dan cara mengatasinya sejak dini.
Menulis bukan sekadar memegang pensil lalu menggoreskan huruf di kertas. Aktivitas ini melibatkan kerja sama motorik halus, memori kerja, persepsi spasial, dan pemrosesan bahasa di otak.
Ketika anak terus-menerus kesulitan menulis sesuai usianya, bukan berarti ia tidak mau berusaha. Bisa jadi ada kondisi neurologis bernama disgrafia yang perlu dipahami orang tua.
Apa Itu Disgrafia?
Disgrafia adalah kondisi neurologis yang membuat anak sulit menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. Kesulitannya bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari menggenggam alat tulis hingga menyusun kalimat.
Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, gangguan belajar ini umumnya mulai terlihat saat anak pertama kali mengenal huruf dan angka. Setiap anak bisa menunjukkan gejala yang berbeda pada usia yang berbeda pula.
Mengapa Anak dengan Disgrafia Sulit Menulis?
Menulis termasuk kegiatan kompleks. Supaya lancar, anak perlu mengandalkan keterampilan motorik halus, persepsi spasial, memori kerja, kemampuan ortografis, pemrosesan bahasa, dan konseptualisasi secara bersamaan.
Disgrafia perkembangan muncul saat anak sedang belajar menulis. Sementara disgrafia didapat bisa terjadi tiba-tiba setelah cedera atau trauma pada kepala dan otak.
Apakah Disgrafia Sama dengan Disleksia?
Keduanya berbeda, meski gejalanya sering tumpang tindih dan muncul bersamaan. Disleksia berkaitan dengan kesulitan membaca, sedangkan disgrafia berfokus pada kesulitan menulis.
Anak dengan disleksia mungkin membaca lebih lambat atau sulit mengenali kata. Anak dengan disgrafia kesulitan menuliskan kata secara fisik maupun menuangkan gagasan ke tulisan.
Penyebab dan Siapa yang Berisiko
Pada anak, disgrafia umumnya disebabkan masalah ortografi. Otak anak mengalami kesulitan merencanakan dan melaksanakan penulisan kalimat, kata, bahkan huruf individual.
Bukan karena anak tidak tahu cara membaca atau mengeja. Risiko disgrafia lebih tinggi jika ada anggota keluarga lain yang mengalaminya, serta cukup umum ditemukan pada anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) dan ADHD.
Gejala Disgrafia yang Perlu Ibu Perhatikan
Anak dengan disgrafia bisa berbicara lancar, tetapi kesulitan saat harus menuangkan pikirannya ke tulisan. Perhatikan tanda-tanda berikut:
- Sulit menulis dalam garis lurus
- Kesulitan memegang dan menggunakan alat tulis
- Tidak bisa mengingat bagaimana suatu huruf harus dibentuk
- Bingung kapan memakai huruf kecil atau huruf kapital
- Menempatkan kata dalam urutan yang salah
- Ejaan, ukuran, dan jarak antarhuruf tidak konsisten
- Tempo menulis lambat dan tulisan sulit dibaca
Satu tanda saja tidak otomatis berarti anak mengalami disgrafia. Namun jika anak kesulitan mempelajari keterampilan dasar menulis yang seharusnya sudah dikuasai sesuai usianya, sebaiknya jangan tunda evaluasi lebih lanjut.
Kapan Anak Perlu Diperiksa?
Konsultasikan ke dokter atau psikolog anak jika kesulitan menulis mulai mengganggu prestasi sekolah, membuat anak frustrasi, atau enggan mengerjakan tugas tulis. Pemeriksaan dini membantu anak mendapat dukungan yang tepat.
Evaluasi biasanya mencakup wawancara riwayat perkembangan, observasi keterampilan motorik halus, serta penilaian kemampuan menulis dan bahasa. Hasilnya menjadi dasar menyusun rencana bantuan yang sesuai kebutuhan anak.
Cara Mengatasi Disgrafia
Disgrafia tidak bisa disembuhkan, tetapi keterampilan menulis anak bisa dilatih dengan pendekatan yang tepat. Latihan motorik halus seperti meremas playdough, menggunting, atau menjepit benda kecil bisa membantu kekuatan jari.
Gunakan alat tulis berukuran lebih besar atau pegangan pensil agar anak lebih mudah menggenggam. Beri waktu tambahan saat mengerjakan tugas tulis, dan sesekali izinkan anak menjawab secara lisan atau mengetik.
Terapi okupasi dan dukungan guru di sekolah sangat membantu. Yang terpenting, hargai setiap kemajuan kecil anak dan hindari membandingkannya dengan teman sebaya.
Memahami disgrafia membuat ibu bisa mendampingi anak tanpa label negatif. Anak yang merasa didukung akan lebih percaya diri menghadapi tantangan menulisnya.