Karhutla di Enrekang Sepanjang 2026 Hanguskan 207 Hektare Lahan, Gunung Lakawan Masih Terbakar
MAKASSAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Enrekang mencatat karhutla sepanjang 2026 telah membakar 207 hektare lahan hutan serta perkebunan milik warga. Jumlah ini lebih luas dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar 150 hektare lebih.
"Ada 24 kejadian hingga hari ini, termasuk kebakaran sejak tadi malam di Gunung Lakawan. Sudah seperdua lahan gunungnya terbakar," ujar Kepala Pelaksana BPBD Enrekang Syamsul Bahri saat dikonfirmasi wartawan, Selasa.
Kebakaran Gunung Lakawan: Api Menjalar ke Lahan Bawang Merah
Kebakaran terbaru terjadi di lahan hutan lindung Gunung Lakawan, Desa Tanete, Kecamatan Anggareja. Api yang menyala sejak kemarin sudah menjalar ke lahan perkebunan warga yang sebagian dikelola untuk menanam bawang merah di gunung setempat.
Pantauan BPBD setempat menunjukkan titik api masih terlihat membakar vegetasi tumbuhan. Kepulan asap abu-abu bercampur hitam pekat membumbung di sekitar tebing.
Pemadaman Terkendala Tebing Terjal dan Jalan Putus
Tim pemadam gabungan berupaya memadamkan api, tetapi menghadapi kendala berat. Akses menuju titik api terputus membuat armada Damkar kesulitan menembus lokasi, ditambah tebing tinggi dan terjal yang menghalangi pemadaman jarak dekat.
"Apalagi, tebing tinggi dan terjal menjadi penghalang memadamkan api dengan jarak dekat," katanya.
Ancaman lain datang dari material panas bebatuan yang terus berjatuhan. Hal ini membahayakan keselamatan warga maupun petugas yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
BPBD Bagi Fokus: Padamkan Api dan Atasi Krisis Air Bersih
BPBD Enrekang harus bekerja ekstra lantaran fokus mereka terbagi. Di tengah upaya pemadaman, krisis air bersih akibat kekeringan juga sedang melanda wilayah tersebut.
"Sampai hari ini masih terbakar (Gunung Lakawan). Tapi, kita berusaha dan masih berupaya padamkan apinya. Para Camat sudah berada di atas (gunung). Kami juga membagi tugas dan sedang fokus membagi air bersih ke warga karena sedang krisis air," tuturnya.
Petugas gabungan bersama warga setempat masih berupaya memadamkan api secara manual. Mereka menggunakan alat seadanya untuk memutus lajur api agar tidak semakin meluas.
Penyebab Kebakaran: Tidak Mau Berspekulasi soal Kesengajaan
Mengenai penyebab karhutla tersebut, Syamsul belum bisa memastikan. Pihaknya tidak ingin berspekulasi apakah api sengaja dibakar untuk membuka lahan, atau murni faktor kekeringan di musim kemarau maupun dampak El Nino.
"Tetapi, kebakaran tentu ada sebab, karena tidak serta merta dampaknya musim kemarau. Kalau kita mau menelaah musim kering seperti ini, (rawan terbakar), itu diartikan semua gunung di Enrekang akan terbakar," kata Syamsul.
Karhutla Tahun Ini Meningkat, Ada Rumah Warga Terdampak
Dari total 24 kejadian karhutla, BPBD mencatat lima kasus kebakaran berdampak pada rumah warga. Kebakaran terparah terlihat di kawasan depan Gunung Nona, di mana api sempat mendekati permukiman.
"Paling parah kebakaran bisa terlihat di depan Gunung Nona; bahkan sudah dekat rumah warga. Kami terus mengimbau atau meminta warga tidak membakar di area terbuka, utamanya warga di sekitar area pegunungan, sebab hembusan angin kencang dapat memicu api membesar," paparnya.
Syamsul menambahkan, musim kering yang dipengaruhi El Nino membuat seluruh lahan di Enrekang rawan terbakar. Meski begitu, ia mengingatkan kebakaran tidak terjadi tanpa sebab dan bisa dipicu aktivitas manusia seperti membersihkan lahan dengan cara dibakar atau membuang puntung rokok sembarangan.