595 Warga Bandar Lampung Terdampak Kekeringan dan Krisis Air Bersih; Kebakaran TPA Putri Cempo Masih Berkobar

Petugas pemadam berupaya memadamkan kebakaran tumpukan sampah di TPA Putri Cempo, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (3/9/2025).
Penulis: Rendra
Jumat, 04 September 2026 | 15:47:31 WIB

BANDAR LAMPUNG — Musim kemarau mulai memicu krisis air bersih di sebagian wilayah Kota Bandar Lampung, Lampung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung mencatat setidaknya 175 kepala keluarga atau 595 jiwa terdampak kekeringan setelah sumur warga mengering pada Kamis (3/9).

Pusat Dampak Kekeringan di Way Laga

Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, menjadi wilayah dengan dampak terbesar. Sebanyak 155 kepala keluarga atau 535 jiwa di kelurahan tersebut kesulitan mendapatkan air bersih. Adapun 20 kepala keluarga atau 60 jiwa lainnya terdampak di wilayah Teluk Betung Timur.

BPBD Kota Bandar Lampung melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Distribusi air bersih ke lokasi-lokasi terdampak telah berjalan untuk memenuhi kebutuhan warga yang sumurnya mengering.

Api di TPA Putri Cempo Masih Bertahan Selama Tiga Hari

Sementara itu, kebakaran tumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah, masih dalam penanganan. Titik api mulai terlihat Rabu (2/9) sekitar pukul 18.00 WIB dan hingga Kamis (3/9) pukul 18.30 WIB belum padam sepenuhnya.

Kebakaran melanda Blok B, C, dan D dengan luas area terdampak sekitar 3 hektare. Angin kencang turut menyebabkan asap tebal menyelimuti lokasi, sehingga 75 warga untuk sementara mengungsi ke Kantor Kelurahan Mojosongo. Data warga terdampak ini masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses pendataan. Hingga kini penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Untuk mempercepat pemadaman, pemerintah kota mengerahkan empat unit mobil pemadam dan tiga unit mobil tangki air. Dinas terkait juga menerima bantuan dua mobil tangki dari BPBD Kabupaten Karanganyar serta satu mobil tangki dari BPBD Kabupaten Boyolali.

Petugas tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga melakukan penyemprotan, pendinginan, dan pemantauan guna mengantisipasi kemunculan kembali titik api. Posko dapur umum telah didirikan di kantor pemadam kebakaran dan bantuan logistik seperti masker, alat pelindung diri, air minum, tenda, kasur, dan selimut disiapkan untuk warga yang mengungsi.

Karhutla Melanda Raja Ampat dan Kutai Kartanegara

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga terjadi di Pulau Dayan, Distrik Batanta Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, pada Rabu (2/9) sekitar pukul 03.30 WIT. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 7,25 hektare dan diduga dipicu aktivitas warga membuka kebun yang merambat ke kawasan gunung akibat cuaca kering serta angin kencang.

Kondisi geografis Raja Ampat yang berupa kepulauan menjadi kendala mobilisasi personel. BPBD setempat bersama Brimob, Batalyon, Polres, dan Basarnas bergerak dari Waisai menuju Pulau Dayan untuk proses pemadaman. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Di Kalimantan Timur, karhutla melanda kawasan Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Rabu (2/9) sekitar pukul 18.30 WITA dengan luas sekitar 5 hektare. Api berhasil dipadamkan pada Kamis (3/9) sekitar pukul 23.20 WITA oleh BPBD bersama sejumlah relawan dan Taruna Siaga Bencana.

Imbauan BNPB soal Larangan Membakar Lahan

Menyikapi kondisi cuaca kering yang melanda sejumlah wilayah, BNPB mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan karena api dapat menyebar dengan cepat. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api kepada petugas setempat agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.

Reporter: Rendra