Tesla Buka Penjualan Armada Cybercab Robotaxi untuk Korporasi

Tesla mulai mengedarkan formulir pemesanan Cybercab kepada pengelola armada komersial untuk dioperasikan di jaringan Robotaxi.
Penulis: Galih
Senin, 07 September 2026 | 22:01:01 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Formulir pemesanan bertajuk "Cybercab fleet vehicle purchasing" mulai diedarkan Tesla kepada kalangan pengelola armada komersial. Lewat program ini, perusahaan pembeli diminta mendanai unit kendaraan sendiri, mengoperasikannya di jaringan Robotaxi milik produsen, lalu membagi hasil tarif perjalanan.

Pola penawaran ini mengulang janji Elon Musk pada ajang Autonomy Day 2019. Kala itu, pemilik mobil dijanjikan potensi laba kotor hingga $30.000 per kendaraan tiap tahun lewat ekosistem "Tesla Network".

Klaim Aset Investasi dan Beban Biaya Pembeli

Klaim bahwa unit kendaraan bakal menjadi aset yang terus naik nilainya terbukti meleset di lapangan. Konsumen sempat membayar peranti Full Self-Driving (FSD) hingga $15.000 dengan iming-iming pemasukan taksi otonom, tetapi operasional mandiri tersebut tidak kunjung terwujud.

Model bisnis penjualan unit Cybercab dinilai menjadi siasat memindahkan beban belanja modal (capex) dan penyusutan harga kepada konsumen. Produsen tetap mengamankan margin penjualan perangkat lunak serta komisi dari setiap transaksi perjalanan tanpa harus menanggung risiko penurunan nilai fisik mobil.

Mitra armada juga menghadapi posisi tawar yang rentan karena bersaing langsung dengan pemilik ekosistem. Tesla memegang kendali penuh atas sistem pengiriman armada, penentuan tarif, persentase bagi hasil, hingga pembatasan wilayah operasional (geofencing).

Dampak Nyata Penurunan Harga Unit Armada

Risiko finansial dari skema armada otonom ini pernah dialami oleh MisterGreen, perusahaan sewa kendaraan asal Belanda. Perusahaan tersebut sempat membeli unit dalam skala besar karena meyakini proyeksi pendapatan robotaxi dari Tesla.

Situasi berbalik saat strategi pemangkasan harga mobil baru diberlakukan, yang memicu anjloknya harga unit bekas hingga sekitar tiga kali lipat lebih cepat dibanding pasar mobil bekas umum. Layanan robotaxi yang dinanti tidak kunjung berjalan hingga memicu kerugian finansial bernilai jutaan dolar bagi pelaku usaha terkait.

Kasus serupa sempat melanda operasional armada di kawasan LA pada rentang 2018 hingga 2020 yang terpaksa berhenti beroperasi. Pengalihan penjualan Cybercab ke pihak luar menandakan keengganan pabrikan menyerap seluruh risiko operasional armada secara mandiri.

Reporter: Galih