Okupansi Hotel Bali Capai 80 Persen di Tengah Erupsi Anak Krakatau, Wisman Capai 17 Ribu per Hari

Okupansi hotel di Bali mencapai 80 persen pada periode high season Juli-Oktober di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau.
Penulis: Wahyu
Selasa, 08 September 2026 | 15:21:31 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, mengonfirmasi kondisi ini saat dihubungi Senin (7/9). Menurutnya, periode high season yang berlangsung sejak Juli hingga Oktober menjadi penopang utama kinerja industri perhotelan di Bali.

Kunjungan Wisman Masih Stabil

Rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 17 ribu orang per hari. Australia, China, dan India mendominasi kedatangan wisman dalam beberapa bulan terakhir.

"Kontribusi yang paling besar banyak yang dari Australia bulan lalu, ada Cina lagi. Tergantung session-nya, kadang-kadang Australia tetap nomor satu, kadang-kadang antara Cina dan India," imbuh Rai.

Dampak Erupsi ke Penerbangan dan Alternatif bagi Wisatawan

Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada sejumlah penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, khususnya rute domestik dari dan menuju Jakarta. Namun, Rai menegaskan gangguan ini tidak banyak mempengaruhi okupansi hotel.

"Tentu ada pengaruh, sedikit pergeseran, tapi tidak banyak," katanya.

Wisatawan yang terdampak pembatalan penerbangan masih punya sejumlah pilihan. Mereka yang tertunda keberangkatannya dari Bali ke Jakarta bisa memperpanjang masa liburan. Sementara penumpang dari Jakarta menuju Bali dapat memilih penerbangan melalui kota lain sebagai alternatif.

Kekhawatiran Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Di balik okupansi yang stabil, PHRI Bali menyimpan kekhawatiran soal kenaikan harga tiket pesawat akibat meningkatnya harga avtur. Rai menilai hal ini berpotensi menekan kunjungan wisatawan domestik yang umumnya sensitif terhadap biaya perjalanan.

"Yang saya khawatirkan adalah dampak pariwisata, khususnya domestik. Orang, kan, selalu hitung-hitungan kalau berlibur itu," kata Rai.

PHRI Bali berharap pemerintah melakukan efisiensi pada komponen biaya lain agar kenaikan harga tiket tidak terlalu tinggi. Dengan begitu, minat wisatawan domestik untuk berlibur ke Bali tetap terjaga.

Target 7 Juta Kunjungan Hingga Akhir Tahun

Meski ada sejumlah tantangan, PHRI Bali optimistis target kunjungan hingga akhir tahun dapat tercapai. Rai meyakini kenaikan harga tiket pesawat tidak akan banyak mempengaruhi minat turis asing karena Bali masih menjadi destinasi favorit dunia.

"Bali masih tetap menjadi tujuan wisatawan dunia. Sampai saat ini sih mulai bulan Agus dan September itu justru sudah mulai stabil. Jadi target kami nanti sampai akhir tahun 7 juta (kunjungan) kami harapkan bisa tercapai, bahkan sedikit bisa di atas itu," pungkasnya.

Bagi traveler yang berencana liburan ke Bali dalam waktu dekat, periode September-Oktober masih menjadi momen ideal karena berada di puncak high season dengan tingkat hunian hotel yang tinggi. Disarankan memesan akomodasi lebih awal dan memantau status penerbangan secara berkala, terutama untuk rute domestik yang sempat terdampak erupsi.

Reporter: Wahyu