Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS, Subsidi BBM 2026 Terancam Bengkak
SPIRITBANGSA.COM — Kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menekan ruang fiskal pemerintah. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 menembus level 100 dolar AS per barel, tepatnya menyentuh 100,88 dolar AS pada Kamis (10/9). Angka itu naik 4,83 dolar AS atau 5,03 persen dibanding sehari sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak 20 Mei.
Lonjakan ini membuat pemerintah berada di posisi sulit: menahan harga BBM bersubsidi agar tidak naik, atau membiarkan beban subsidi membengkak di APBN. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menyebut kenaikan harga minyak memberi tekanan langsung pada anggaran kompensasi subsidi BBM.
Dampak ke Inflasi dan Daya Beli
Menurut Eko, kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada beban APBN, tetapi juga merembet ke inflasi. Sebab, sebagian besar industri dan sektor distribusi logistik masih menggunakan BBM non-subsidi yang harganya menyesuaikan pasar.
“Meskipun kenaikan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung dari tensi geopolitik AS-Israel vs (versus) Iran, namun tentu akan berdampak ke inflasi, beban kompensasi APBN demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga, serta inflasi,” ucap Eko di Jakarta, Minggu (13/9).
Bahan baku berbasis minyak bumi seperti plastik juga berisiko ikut naik. Situasi diperberat oleh faktor alam, yakni fenomena El Nino yang sedang berlangsung.
Subsidi BBM Tetap Dijaga, tapi Harus Efisien
Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak naik sepanjang tahun ini. Konsekuensinya, anggaran kompensasi subsidi harus disiapkan untuk menutup selisih harga keekonomian dengan harga jual di masyarakat.
“Beberapa upaya untuk memperbaiki kebijakan subsidi BBM, (yaitu) ke arah penerima yang sesuai menggambarkan bahwa subsidi BBM ini penting untuk terus diupayakan efisien agar tak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak,” ujar Eko.
Efektivitas kompensasi, lanjutnya, sangat bergantung pada tiga hal: ketepatan sasaran penerima, mekanisme penyaluran, dan kemampuan pemerintah mencegah kebocoran anggaran.
Harga BBM Non-Subsidi Masih Bisa Naik Lagi
Berbeda dengan BBM bersubsidi, harga BBM non-subsidi menyesuaikan harga pasar. Eko memperkirakan masih ada kemungkinan kenaikan lanjutan jika harga minyak dunia bertahan tinggi.
“Soal potensi harga BBM, kalau non subsidi akan menyesuaikan harga pasar sehingga masih mungkin terjadi kenaikan-kenaikan berikutnya,” ungkapnya.
Bagi masyarakat pengguna BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, harga jual saat ini masih dijamin tidak berubah. Namun informasi resmi soal besaran kompensasi, jadwal penyaluran, dan kriteria penerima manfaat dapat diakses melalui kanal Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM.
Yang Perlu Dicermati Masyarakat
Kenaikan harga minyak dunia tidak otomatis membuat harga BBM bersubsidi naik. Yang berubah adalah besarnya beban yang harus ditanggung APBN untuk menahan harga tersebut.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan subsidi benar-benar sampai ke kelompok yang berhak. Masyarakat yang merasa berhak menerima kompensasi dapat memantau pengumuman resmi dan tidak mempercayai informasi dari sumber tidak jelas.
Waspadai modus penipuan yang mengatasnamakan program kompensasi atau subsidi BBM. Semua informasi resmi disampaikan melalui kanal pemerintah, bukan melalui pesan pribadi atau pihak yang meminta biaya pendaftaran.