Pencarian

Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Rp17.607, Berbalik Melemah ke Rp17.649 Seiring Dolar AS Menguat

Senin, 14 September 2026 • 11:16:02 WIB
Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke Rp17.607, Berbalik Melemah ke Rp17.649 Seiring Dolar AS Menguat

JAKARTA, SPIRITBANGSA.COM — Rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat tipis 0,02% atau 4 poin ke level Rp17.607 pada Senin (14/9/2026) pukul 09.05 WIB, sebelum berbalik melemah 0,22% atau 38 poin ke Rp17.649 pada pukul 10.57 WIB. Pembalikan arah terjadi seiring indeks dolar AS yang terus menguat 0,21% ke posisi 99,33. Pergerakan ini melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu.

Kurs rupiah bergerak fluktuatif sepanjang sesi pagi. Saat dibuka pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda sempat menguat 0,02% atau 4 poin ke Rp17.607 per dolar AS, dengan indeks dolar AS saat itu berada di posisi 99,19 atau menguat 0,07%.

Namun dua jam berselang, tekanan balik datang. Pada pukul 10.57 WIB, rupiah berbalik melemah 0,22% atau 38 poin menuju level Rp17.649 per dolar AS.

Penguatan indeks dolar AS menjadi 99,33 atau naik 0,21% berbarengan dengan pelemahan rupiah tersebut. Data ini mengacu pada pergerakan pasar valuta asing hari ini.

Apa yang Menekan Rupiah Pagi Ini?

Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Pada perdagangan sebelumnya, Jumat (11/9/2026), rupiah sudah ditutup melemah 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS.

Pelemahan juga menimpa sejumlah mata uang Asia lain. Ringgit Malaysia turun 0,09%, rupee India turun 0,28%, dan peso Filipina turun 0,26%.

Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan justru menguat. Won Korea naik 0,38%, dolar Singapura naik 0,02%, yuan China menguat 0,03%, baht Thailand naik 0,09%, dan yen Jepang menguat 0,10%.

Ketegangan Iran-AS dan Lonjakan Harga Minyak

Faktor utama yang menekan rupiah adalah ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat. Konflik tersebut kini memasuki bulan ketujuh dan disebut sebagai salah satu pertempuran terparah dalam beberapa bulan terakhir.

Eskalasi itu mengganggu distribusi minyak mentah dunia. Harga minyak mentah Brent per 10 September 2026 berada di level US$107,63 per barel, melonjak signifikan dari US$71,80 per barel pada Juli 2026.

Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN 2026 meningkatkan risiko defisit fiskal. Pasalnya, beban subsidi BBM membengkak sementara Indonesia merupakan importir neto minyak.

Proyeksi Analis untuk Sepekan ke Depan

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif di rentang Rp17.610-Rp17.650 hari ini. Untuk sepekan ke depan, ia memperkirakan rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.500-Rp17.850.

Proyeksi tersebut bersifat perkiraan dan bukan fakta pergerakan yang sudah terjadi. Pasar masih akan mencermati perkembangan harga minyak dan dinamika geopolitik Timur Tengah.

Bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor bahan baku, pelemahan rupiah menambah beban biaya produksi. Sementara eksportir berpeluang menikmati daya saing harga yang lebih baik di pasar global.

Pergerakan rupiah sepanjang sisa sesi hari ini akan bergantung pada arus masuk valuta asing dan sentimen global terhadap dolar AS.

Data Kurs Rupiah/USD, Senin 14 September 2026

WaktuKursIndeks Dolar AS
09.05 WIBRp17.607 (menguat 0,02% / 4 poin)99,19
10.57 WIBRp17.649 (melemah 0,22% / 38 poin)99,33

Mata Uang Asia Lain (Jumat, 11 September 2026)

Mata UangPergerakan
Ringgit Malaysia−0,09%
Rupee India−0,28%
Peso Filipina−0,26%
Won Korea+0,38%
Dolar Singapura+0,02%
Yuan China+0,03%
Baht Thailand+0,09%
Yen Jepang+0,10%

Harga minyak mentah Brent per 10 September 2026 berada di level US$107,63 per barel, melonjak dari US$71,80 per barel pada Juli 2026, dipicu ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat yang memasuki bulan ketujuh.

Analis PT Traze Andalan Futures memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp17.610–Rp17.650 hari ini dan Rp17.500–Rp17.850 dalam sepekan ke depan. Data pergerakan pasar bersifat dinamis dan dapat berubah.

Follow spiritbangsa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks