Steam Frame Rilis $1.059, Valve Akui Harga Terdongkrak Krisis RAM

Steam Frame varian 256 GB dibanderol $1.059 atau sekitar Rp 17,3 juta.
Penulis: Doni
Senin, 14 September 2026 | 01:11:31 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Steam Frame varian 256 GB dengan sepasang VR controller dibanderol $1.059 (sekitar Rp 17,3 juta). Versi 1 TB naik ke $1.299 atau sekitar Rp 21,2 juta. Valve juga menjual Ergonomic Accessories Kit terpisah seharga $49 (sekitar Rp 800 ribu) berisi dua hand strap controller, head strap headset, dan extended light blocker.

Angka ini mengingatkan pada harga Valve Index yang bertahan bertahun-tahun. Bedanya, konteks pasar sudah bergeser drastis setelah yang disebut komunitas sebagai "RAMpocalypse" menghantam seluruh industri hardware.

Kenapa Lebih Mahal dari Quest 3?

Meta Quest 3 tetap dijual di $600 (sekitar Rp 9,8 juta) bahkan setelah kenaikan harga yang alasannya nyaris identik dengan penjelasan Valve. Selisih $450 bukan angka kecil, apalagi untuk gamer Indonesia yang sudah terbebani kurs rupiah dan pajak impor.

Diferensiasi hardware paling mencolok ada di sektor memori. Steam Frame membawa 16 GB LPDDR5X, sementara Quest 3 hanya 8 GB LPDDR5. Valve memilih kapasitas ganda agar satu perangkat bisa menjalankan seluruh katalog Steam VR tanpa perlu memangkas kualitas grafis.

"We looked at the Steam Frame pre-launch a few years ago, we said we can access this huge fraction of the same catalog as the Steam Deck, or we can slice a major component off it and make sure that'll never run," kata Jeremy Selan, software engineer Valve.

"Even in hindsight, having a single target where we know what this generation will be capable of running is great, and we're very happy with that," lanjutnya.

Valve: Target Awal Lebih Rendah, Tapi RAM Crisis Mengubah Segalanya

Joy Lyons, hardware engineer Valve, menjelaskan tim desain sudah mengunci satu angka harga sejak awal proyek. Lonjakan harga komponen memori secara global memaksa penyesuaian yang tidak bisa dihindari.

"We set out to design this hardware with one particular price in mind, but we've made choices to make sure that we're making a product that is choiceful, that people can purchase, they can upgrade with different features later," ujar Lyons. "Then that price target shifted due to the ongoing RAM crisis around the world."

Lyons juga menyebut prediksi biaya komponen jadi tantangan berkelanjutan. "We don't know what pricing is in the future. We try to monitor these things, but we're certainly very aware of it," tambahnya.

Selan, yang mendemonstrasikan seluruh fitur Steam Frame langsung di markas Valve pada akhir 2025, menyuarakan kekecewaan yang sama.

"I wish we could have shipped it at the price that we were at last year. It's still awesome today. It is amazing, but we were targeting a lower price, and I wish we could have done that," kata Selan.

Meta vs Valve: Siapa yang Lebih Kuat Menanggung Rugi?

Valve bukan perusahaan yang kekurangan kas. Tapi mereka tidak punya kemewahan seperti Meta yang rutin membakar miliaran dolar per kuartal di divisi Reality Labs untuk headset Quest dan smart glasses Orion tanpa tekanan ROI jangka pendek.

Bagi Valve, setiap unit yang tidak terjual langsung menekan margin. Tidak ada lini iklan atau platform sosial media yang bisa menutupi kerugian hardware. Kondisi ini membuat keputusan harga Steam Frame jauh lebih kaku dibanding kompetitor.

Apa Artinya untuk Komunitas VR Indonesia?

Dengan harga di atas Rp 17 juta, Steam Frame praktis hanya terjangkau segelintir gamer Indonesia yang memang serius di ranah PC VR. Belum ditambah kebutuhan PC dengan spesifikasi memadai untuk menjalankan konten VR berkualitas tinggi.

Quest 3 di angka Rp 9,8 juta tetap jadi pilihan mainstream. Tapi bagi pemain yang sudah terikat ekosistem Steam dan menginginkan akses penuh ke katalog VR tanpa kompromi grafis, Steam Frame menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan headset standalone.

Valve menyebut proyek ini tetap "compelling" dan mereka senang bisa melepas hardware baru di tengah krisis. Yang jelas, peluncuran Steam Frame dan Steam Machine dalam satu tahun yang sama menjadikan 2026 periode berat bagi konsumen hardware gaming global, termasuk Indonesia.

Reporter: Doni