SPIRITBANGSA.COM — Angka stunting di Indonesia memang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Salah satu contoh nyata datang dari Puskesmas Anak Air, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, yang mencatat 179 kasus anak stunting di wilayahnya. Dari jumlah itu, 37 kasus dengan kondisi kompleks terpaksa dirujuk ke rumah sakit daerah untuk penanganan dokter spesialis.
Namun yang menarik, di balik angka tersebut ada kabar baik: pendekatan pencegahan kini diubah dari hulu. Bukan cuma mengobati anak yang sudah telanjur bermasalah, tapi memastikan ibu hamil sehat sejak awal agar bayi lahir dengan kondisi optimal.
Kenapa Pencegahan Stunting Harus Dimulai dari Ibu Hamil?
Kondisi kesehatan ibu selama mengandung punya kaitan erat dengan tumbuh kembang janin. Kepala Puskesmas Anak Air, Marta Nofa, menegaskan bahwa memutus rantai stunting harus dimulai dari masa kehamilan. Perhatian khusus diberikan pada ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia, karena dua kondisi ini sangat berisiko melahirkan bayi dengan gangguan pertumbuhan.
Pendampingan aktif dilakukan tenaga kesehatan sejak masa kehamilan. Ibu tidak dibiarkan memeriksakan diri sendiri—seluruh proses dikontrol oleh petugas hingga persalinan tiba.
Apa Itu Inovasi Balek Lancah dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Salah satu kunci keberhasilan di Puskesmas Anak Air adalah inovasi bernama Balek Lancah. Program ini melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk suami, untuk bersama-sama memastikan kesehatan ibu dan janin tetap terkontrol. Suami tidak hanya mengantar istri memeriksa kandungan, tapi juga dilibatkan dalam edukasi gizi di rumah.
Hasilnya pun nyata. Berkat sinergi lintas sektor dan pengawasan ketat kader Posyandu, kini tidak ada lagi persalinan yang dilakukan di rumah. Seluruh proses melahirkan sudah beralih ke fasilitas medis yang aman—sebuah capaian besar mengingat budaya persalinan di rumah sebelumnya sulit dihilangkan.
Peran Kader Posyandu dan Makanan Tambahan Lokal
Garda terdepan penanganan stunting ada di tangan kader Posyandu. Merekalah yang memantau pertumbuhan anak di tingkat lingkungan dan melaporkan temuan balita kurus atau berisiko stunting kepada petugas kesehatan. Jika ditemukan masalah, anak langsung diarahkan ke Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Selain pemeriksaan, intervensi gizi juga dijalankan lewat program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Dana dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Kementerian Kesehatan dikelola tenaga gizi bersama mitra setempat. Menariknya, makanan bergizi ini tidak diambil di posyandu, melainkan diantarkan langsung oleh kader ke rumah-rumah sasaran setiap hari selama program berlangsung.
Tantangan Unik di Wilayah Perlintasan dan Mobilitas Tinggi
Puskesmas Anak Air punya tantangan tersendiri: kawasan kerja mereka berada di area perlintasan dengan mobilitas penduduk sangat tinggi. Banyaknya warga pendatang dan ibu hamil usia muda membuat pengawasan kesehatan harus lebih intensif. Ibu hamil muda kerap datang tanpa pendampingan keluarga yang memadai, sehingga peran tenaga kesehatan dan kader menjadi semakin krusial dalam memastikan kehamilan mereka tetap sehat.
Koordinasi antarinstansi pun diperkuat. Pemerintah, puskesmas, dan kader bergerak bersama untuk memastikan tidak ada ibu dan anak yang terlewat dari pemantauan.
Stunting memang bukan soal anak yang kurus saja, tapi juga masa depan generasi penerus. Kabar baiknya, pencegahan kini bisa dimulai dari masa kehamilan dengan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan yang solid. Jika wilayah perlintasan dengan mobilitas tinggi saja bisa ditekan, ibu di kota besar mana pun seharusnya bisa menerapkan pendekatan serupa di rumah masing-masing.