SPIRITBANGSA.COM — Kursi roda kendali sinyal otak buatan AiMOGA Robotics menjuarai Mind-Driven Wheelchair Challenge di kompetisi brain-computer interface 2026 di Hangzhou, China, dengan catatan waktu 2 menit 16 detik. AiMOGA BCI memakai EEG noninvasif delapan kanal untuk menerjemahkan perhatian pengguna menjadi perintah gerak. Perusahaan mengklaim akurasi di atas 95% dan latensi di bawah tiga detik, meski harga serta jadwal ketersediaannya belum diumumkan.
AiMOGA Robotics membawa pulang gelar juara pertama kategori Mind-Driven Wheelchair Challenge lewat kursi roda AiMOGA BCI. Dalam lomba di Hangzhou, China, perangkat itu menuntaskan lintasan dalam 2 menit 16 detik, unggul 17 detik atas peserta peringkat kedua. Waktu penyelesaian lintasan memang jadi indikator penilaian utama di kompetisi tersebut.
Cara Kerja EEG Delapan Kanal
AiMOGA BCI mengandalkan teknologi electroencephalography (EEG) noninvasif dengan delapan kanal. Pengguna mengenakan perangkat EEG, lalu memusatkan perhatian pada pilihan arah yang tampil di layar.
Sistem membaca sinyal itu dan menerjemahkannya menjadi perintah maju, mundur, belok kiri, belok kanan, atau berhenti. Menurut AiMOGA, akurasi pengenalan perintahnya melewati 95% dengan latensi kurang dari tiga detik. Angka tersebut masih klaim perusahaan, bukan hasil uji independen.
"Pengguna hanya perlu memusatkan perhatian pada tombol arah yang ditampilkan di layar untuk mengendalikan pergerakan kursi roda tanpa menggunakan tangan," jelas Xie Yuyang, Head of Brain-Computer Interface AiMOGA Robotics, dalam keterangan tertulis.
Sasaran Pengguna dan Fitur Keselamatan
Teknologi ini dirancang untuk orang dengan keterbatasan gerak tangan maupun tubuh yang tetap sadar dan mampu memahami instruksi. Xie menyebut sasaran awalnya adalah penyandang paraplegia tingkat tinggi, penyintas stroke, serta orang dengan gangguan mobilitas lain.
"Tujuan awal kami mengembangkan produk ini adalah untuk memberikan kemudahan dan membuka lebih banyak kemungkinan bagi penyandang paraplegia tingkat tinggi, orang yang mengalami stroke, serta orang dengan gangguan mobilitas lainnya," ujar Xie.
Untuk pemakaian di luar arena lomba, kursi roda AiMOGA dilengkapi LiDAR dan kamera kedalaman. Keduanya menopang navigasi berbasis peta sekaligus deteksi dan penghindaran rintangan. Ada pula kendali layar sentuh, tombol berhenti darurat, dan opsi pengambilalihan kendali secara manual.
Aturan Lomba dan Skala Kompetisi
Saat bertanding, fitur penghindaran rintangan berbasis LiDAR dan navigasi peta dimatikan sesuai regulasi. AiMOGA menilai hasil lomba tetap membuktikan kemampuan sistem menangkap sinyal EEG, mengenali perintah, dan menggerakkan kursi roda pada tugas yang dipertandingkan.
Kompetisi ini digelar National Healthcare Security Administration of China bersama Pemerintah Provinsi Zhejiang. Sebanyak 415 tim ikut serta, termasuk dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Singapura, dengan 251 proyek lolos ke babak final.
Selain kursi roda, cabang tantangannya meliputi pengendalian drone, lengan robot, robot berkaki empat, hingga pengetikan menggunakan sinyal otak.
Yang Belum Diumumkan AiMOGA
AiMOGA belum merinci harga, jadwal ketersediaan, maupun hasil pengujian klinis kursi roda tersebut. Dua hal itu bakal menentukan apakah teknologi ini berhenti sebagai prototipe kompetisi atau benar-benar masuk jalur produksi dan distribusi.
Kemenangan di Hangzhou menempatkan AiMOGA BCI di barisan depan riset brain-computer interface yang mulai bergerak dari laboratorium ke perangkat bantu mobilitas. Bagi pasar Indonesia, teknologi semacam ini masih menunggu kejelasan regulasi alat kesehatan dan skema pembiayaan sebelum bisa diakses penyandang disabilitas motorik.