SPIRITBANGSA.COM — Singapura menelan kekalahan 0-6 dari Malaysia pada laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Hasil itu menjadi yang terburuk bagi The Lions sejak skor serupa pada 1978, dan datang hanya tiga bulan sebelum Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
Kekalahan tersebut menutup perjalanan Singapura di turnamen regional dengan catatan yang bertolak belakang dari performa mereka sebelumnya. Tim asuhan Gavin Lee sempat tampil solid sepanjang FIFA ASEAN Cup 2026, bahkan melaju hingga semifinal dan menumbangkan Thailand 2-1 di leg kedua sebelum akhirnya tersingkir.
Pertahanan Terbaik yang Runtuh di Bandung
Sepanjang turnamen, Singapura termasuk tim dengan pertahanan paling rapat. Catatan itu buyar dalam satu pertandingan melawan Malaysia. The Lions kebobolan enam gol tanpa balas, angka yang tidak pernah mereka alami sejak 1978.
Yang lebih mengkhawatirkan, Singapura kehilangan kendali permainan setelah tertinggal 0-2. Mereka tidak mampu menahan laju serangan Malaysia maupun membangun kembali ritme permainan.
Noh Alam Shah: Kekalahan Ini Sangat Menyakitkan
Legenda timnas Singapura yang juga pernah memperkuat Persib Bandung, Arema Indonesia, dan PSS Sleman, Noh Alam Shah, menyebut hasil ini sebagai pukulan berat. Ia menilai persoalannya bukan sekadar skor akhir.
"Ini hasil yang sangat menyakitkan, terutama saat melawan Malaysia. Namun, yang lebih mengkhawatirkan daripada skor akhirnya adalah bagaimana kami kehilangan kendali setelah tertinggal 0-2," ujar Alam Shah dikutip dari The Straits Times.
"Di level ini, kita harus mampu tetap kompetitif dan mengelola situasi sulit," ucapnya menambahkan.
Evaluasi Identitas Permainan Sebelum Piala Asia 2027
Piala Asia 2027 di Arab Saudi dijadwalkan berlangsung 7 Januari hingga 5 Februari tahun depan. Jaraknya hanya sekitar tiga bulan dari FIFA ASEAN Cup 2026, sehingga waktu persiapan Singapura sangat pendek.
Alam Shah berharap kekalahan dari Malaysia memicu evaluasi menyeluruh, bukan hanya perbaikan teknis jangka pendek. Menurutnya, Singapura perlu meninjau ulang identitas permainan dan pendekatan yang dipakai tim pelatih.
"Hasil ini seharusnya memicu evaluasi serius terhadap identitas kita dan apakah pendekatan saat ini memberikan peluang terbaik bagi kita di Piala Asia," tutur Alam Shah.
Kontras Performa yang Jadi Sorotan
Kekalahan 0-6 ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pengamat. Singapura datang ke laga terakhir Grup A dengan reputasi sebagai salah satu pertahanan terbaik di turnamen, lalu pulang dengan catatan sejarah kelam.
Bagi Malaysia, hasil ini menjadi modal berharga. Sementara Singapura meninggalkan Bandung dengan pekerjaan rumah besar: memperbaiki pertahanan, mengembalikan kepercayaan diri pemain, dan menemukan formula permainan yang bisa bertahan di level Piala Asia.