Kualitas Udara Pelalawan Kembali Memburuk ke Level Sangat Tidak Sehat, PM2.5 Tembus Angka 276
PANGKALAN KERINCI — Kabut asap kembali menebal di Pelalawan, membuat kualitas udara di wilayah itu jatuh ke level sangat tidak sehat. Padahal sehari sebelumnya, kondisi udara sempat membaik dan berada di level tidak sehat, namun kini indikator pada alat pemantau milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan telah berubah dari warna kuning menjadi merah.
Kepala DLH Pelalawan, Eko Novitra, membenarkan penurunan drastis kualitas udara tersebut. Ia menyebut kabut asap yang kembali pekat menjadi penyebab utama memburuknya kondisi atmosfer di Negeri Seiya Sekata.
"Ya, kualitas udara kita hari ini kembali ke level sangat tidak sehat, karena kabut asap kembali pekat. Padahal kemarin sudah mulai membaik dan masuk level tidak sehat," ujarnya kepada Riaupos.co, Jumat (29/8/2026).
Lonjakan Drastis Partikel Halus PM2.5 dan PM10
Berdasarkan data dari alat pendeteksi ISPU milik DLH Pelalawan, dari lima parameter yang diukur, dua di antaranya menunjukkan kategori membahayakan kesehatan. Parameter PM10 tercatat di level 162 dengan kategori tidak sehat, melonjak tajam dari angka 95 pada hari sebelumnya yang masih berstatus sedang.
Lonjakan paling mengkhawatirkan terjadi pada parameter PM2.5. Partikel halus berukuran sangat kecil ini terpantau di level 276, masuk kategori sangat tidak sehat. Angka ini naik hampir dua kali lipat dari posisi 149 pada pengukuran sebelumnya. Kedua parameter ini tergolong kritis karena tingkat kualitas udaranya bersifat merugikan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.
Parameter Lain Masih Normal, Alat Pemantau CO Rusak
Meski dua parameter utama menunjukkan kondisi bahaya, beberapa parameter lain tercatat masih aman. Sulfur dioksida (SO2) berada di level 33 dengan kategori baik, sementara ozon (O3) di angka 6 yang juga masuk kategori baik. Nitrogen dioksida (NO2) tercatat di angka 0.
Namun, Dinas Lingkungan Hidup tidak dapat memantau parameter karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC) lantaran alat pendeteksinya sedang rusak. Kendati demikian, lonjakan signifikan pada PM2.5 dan PM10 sudah cukup menjadi indikasi bahwa kualitas udara di Pelalawan tengah berada dalam kondisi darurat.
Imbauan untuk Warga: Gunakan Masker Saat Beraktivitas di Luar
Menghadapi kondisi ini, DLH Pelalawan terus mengeluarkan imbauan kepada masyarakat, terutama anak-anak dan pelajar, untuk tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Namun, pihaknya menyadari masyarakat tetap harus menjalankan aktivitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Dengan kembali memburuknya kualitas udara ini, kami tentunya terus mengimbau warga agar tidak keluar rumah, khususnya anak-anak ataupun siswa sekolah. Tapi tak mungkin masyarakat tak beraktivitas, jadi diharuskan menggunakan masker saat keluar rumah," tutup Eko Novitra.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di Riau masih jauh dari selesai. Warga diimbau untuk terus memantau perkembangan kualitas udara dan mempersiapkan diri dengan alat pelindung diri yang memadai.