Film Taiwan Will You Still Be My Friend Masuk San Sebastian dan Busan

Film Taiwan-Singapura *Will You Still Be My Friend* garapan sutradara Lu Po-Shun masuk seleksi kompetisi New Directors di Festival Film San Sebastian.
Penulis: Galih
Minggu, 06 September 2026 | 12:56:31 WIB

SPIRITBANGSA.COM — Di San Sebastian, film produksi bersama Taiwan dan Singapura ini masuk dalam sesi kompetisi New Directors. Selain itu, film garapan sutradara Lu Po-Shun ini turut bersaing memperebutkan Sebastiane Award, penghargaan khusus untuk karya yang mengangkat narasi serta pengalaman LGBTQIA+.

Sinopsis Will You Still Be My Friend

Cerita berpusat pada dinamika dua anak laki-laki, diperankan oleh aktor muda Jaden Wang dan Aloysius Looi. Hubungan erat keduanya diuji saat konflik antar-keluarga mulai memanas di tengah lingkungan pedesaan Taiwan.

Perselisihan orang dewasa yang kian meruncing memaksa salah satu anak menyembunyikan pertemanannya dengan sang sahabat yang tumbuh besar di Singapura. Bersamaan dengan tekanan sosial tersebut, ia mulai mempertanyakan perasaan pribadinya yang tumbuh untuk sahabatnya itu.

Jajaran pemeran pendukung diperkuat oleh aktor kawakan Lung Tien Hsiang, Lu Yi-Ching, Andie Chen, Kate Pang, hingga Xing Chang. Trailer perdana yang baru dilepas memperlihatkan lanskap pedesaan yang kontras dengan gejolak emosi para karakternya.

Alasan Moveria Boyong Lisensi Global

Kekuatan narasi persahabatan polos di tengah konflik sosial menjadi daya pikat utama bagi pembeli internasional. Moveria melihat ada keunikan cara tutur yang tidak menghakimi relasi kedua tokoh utama.

“What I really connected with is the relationship between the two boys,” kata Yasmin Porangaba, Head of Sales and Acquisition Moveria.

“When they’re alone, everything feels simple, light and natural. It’s like they have this little world of their own, almost like a secret, because the people around them don’t really get them. Around their families and friends, they have to fit into certain roles, while their time together feels like a space where none of that matters,” lanjutnya.

Yasmin juga menggarisbawahi pendekatan sutradara yang membiarkan spektrum hubungan kedua tokoh tetap terbuka tanpa kotak definisi yang kaku.

“I also love that the film never defines what they are to each other. They’re too young to really make sense of it themselves, and I like that the film leaves that open. They know how to be there for each other, forgive each other and just move forward in a way that feels surprisingly mature. The two boys are amazing together, the film is beautiful, and that’s really what made us want to represent it,” tutur Yasmin.

Jejak Industri Sutradara dan Tim Produser

Lu Po-Shun bukan nama asing di sirkuit festival. Film pendeknya, Wild Tides, memboyong piala sutradara terbaik di Taipei Film Awards. Ia juga mengarahkan segmen Way Home dalam film antologi Ten Years Taiwan (2018) yang tayang di sesi A Window on Asian Cinema Busan.

Di balik layar, proyek ini diproduseri oleh Eric Chou Tseng-Chen dan Yu-Hao Su melalui InLight Film Studio serta Verdant Peak Films. Eric berpengalaman memproduseri Get the Hell Out yang menembus sesi Midnight Madness Festival Film Toronto 2020.

Sementara itu, rekam jejak Yu-Hao Su mencakup film Test Pattern arahan Shatara Michelle Ford yang masuk nominasi Film Independent Spirit Award dan Gotham Award, serial Fragrance of the First Flower, serta film Dreams in Nightmares yang sempat tayang di sesi Panorama Berlinale.

Sebelum mengunci jadwal tayang di San Sebastian dan Busan, proyek Will You Still Be My Friend telah mengantongi dukungan inkubasi internasional melalui forum Ties That Bind, Golden Horse Film Project Promotion, EFM Far East in Progress, hingga program HAF Goes to Cannes di Cannes Film Market.

Debut fitur Lu Po-Shun ini mempertegas tren positif kolaborasi sinema Asia Timur dan Asia Tenggara di panggung festival film kelas A Eropa.

Reporter: Galih