Kebakaran Lahan 20 Hektare Hanguskan Bunguran Batubi Natuna, Petugas Siagakan Ambulans di Lokasi
NATUNA — Kebakaran hutan dan lahan seluas 20 hektare melanda kawasan Kecamatan Bunguran Batubi, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Kobaran api yang berkecamuk sejak Jumat (4/9) tersebut baru berhasil dijinakkan petugas gabungan pada Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB tanpa menelan korban jiwa.
Guna mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan personel di garis depan maupun warga setempat, Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kabupaten Natuna langsung menempatkan unit medis bergerak di lokasi kejadian.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Natuna, Zulheppy, menegaskan bahwa armada medis disiagakan penuh mendampingi pergerakan regu pemadam selama operasi berlangsung.
"Kehadiran ambulans ini bertujuan untuk memberikan pertolongan medis darurat kepada petugas yang mengalami kelelahan atau paparan asap saat pemadaman, serta bagi warga sekitar yang membutuhkan," kata Zulheppy.
Gambut Masih Membara dan Ancaman Titik Api Baru
Kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman. Sisa bara api yang terperangkap di lapisan bawah tanah dan tunggul kayu kering kembali memicu titik api baru pada Sabtu siang, menghanguskan tambahan lahan sekitar 1 hingga 2 hektare.
Hembusan angin kencang di kawasan pesisir pulau terluar ini mempercepat kobaran bara gambut kembali naik ke permukaan. Alhasil, regu pemadam harus bekerja ekstra keras menyisir kepulan asap yang terus bermunculan.
Intensitas karhutla di kawasan tersebut tergolong tinggi. Rentetan titik api terpantau terus bermunculan sejak 1 hingga 5 September 2026, sehingga memaksa satgas mengubah strategi penanganan di lapangan.
Keterbatasan Selang 270 Meter Jadi Kendala Utama
Minimnya sarana pemadaman menjadi rintangan terbesar satgas di lapangan. Tim terpaksa memprioritaskan penyekatan api pada lahan yang menempel langsung dengan permukiman warga Bunguran Batubi demi mencegah jatuhnya korban.
"Kendala utama kami saat ini adalah keterbatasan peralatan, terutama panjang selang pemadam yang hanya mencapai maksimal 270 meter. Kami belum memiliki pasokan selang tambahan untuk menjangkau titik api yang lebih masuk ke dalam hutan," kata Zulheppy.
Di tengah keterbatasan daya jangkau selang air, petugas memutar otak dengan mengombinasikan berbagai teknik pemadaman:
- Pengoperasian mesin pompa pemadam berkapasitas besar untuk area terbuka.
- Pemanfaatan mesin pompa portabel berdaya pancur kecil untuk menyusuri tepian hutan.
- Teknik manual dengan memukulkan dahan berdaun basah langsung ke lidah api guna melokalisasi bara.
"Kebakaran semalam berlangsung hingga Sabtu dini hari, petugas kembali ke satuan sekitar hampir pukul tiga dini hari," ucapnya.