SPIRITBANGSA.COM — Menjelang kelahiran si kecil, ibu dan ayah biasanya sibuk menyiapkan stroller, baju newborn, hingga kamar bayi. Padahal, ada satu persiapan yang tak kalah penting tapi sering terlewat, yaitu kesiapan diri orangtua. Simak panduan lengkapnya berikut ini.
Memilih perlengkapan bayi memang menyenangkan. Namun, menjadi orangtua bukan sekadar soal barang-barang baru. Ada peran baru yang perlu dipelajari sejak masa kehamilan.
Kelahiran anak mengubah hidup pasangan. Dari yang awalnya hanya suami dan istri, keduanya mulai beradaptasi dengan tanggung jawab sebagai ibu dan ayah.
Mengapa Kesiapan Orangtua Sama Pentingnya dengan Perlengkapan Bayi
Banyak pasangan fokus pada kebutuhan si kecil sampai lupa menyiapkan diri sendiri. Padahal, edukasi sebelum bayi lahir terbukti membantu orangtua lebih percaya diri.
Penelitian internasional menunjukkan program edukasi untuk calon orangtua meningkatkan parental self-efficacy, yakni keyakinan pada kemampuan menjalankan peran sebagai orangtua. Efeknya bahkan masih terasa hingga dua bulan setelah intervensi.
WHO juga menempatkan masa kehamilan sebagai momen penting untuk memberi dukungan dan informasi bagi calon ibu serta keluarganya. Konsep positive pregnancy experience tidak hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga menyiapkan transisi menuju persalinan dan pengalaman menjadi orangtua yang positif.
Keterampilan Dasar Merawat Bayi Baru Lahir
Ada sejumlah keterampilan praktis yang bisa dipelajari sejak masa kehamilan. Mulai dari memandikan newborn, mengganti popok, memahami kebutuhan tidur bayi, mengenali tanda lapar, hingga cara menggendong yang aman.
Menghafal langkah-langkahnya dari buku memang bisa. Tapi berlatih langsung, misalnya lewat kelas perawatan bayi, membuat ibu dan ayah lebih siap saat si kecil sudah di rumah.
Peran Ayah dalam Masa Transisi Menjadi Orangtua
Persiapan menyambut bayi bukan hanya tugas ibu. Ayah punya porsi yang sama pentingnya dalam proses ini.
Sebuah tinjauan sistematis tentang program edukasi perinatal yang melibatkan ayah menemukan sejumlah manfaat. Di antaranya peningkatan keterlibatan ayah, kualitas hubungan pasangan, hubungan co-parenting, kesehatan mental ayah, serta perilaku suportif.
Meski begitu, peneliti mencatat bukti soal peningkatan pengetahuan dan parenting self-efficacy masih belum konsisten. Artinya, masih dibutuhkan lebih banyak program yang melibatkan ayah dan pasangan secara bersama-sama.
Tinjauan lain soal transisi menuju parenthood juga menyoroti hal serupa. Dukungan psikologis selama periode ini dapat membantu mengurangi gejala depresi, kecemasan, dan stres pada ibu, sekaligus berdampak positif pada co-parenting.
Belajar Sambil Menikmati Waktu Berdua
Persiapan menjadi orangtua tidak harus selalu terasa serius. Masa kehamilan bisa jadi kesempatan menikmati waktu bersama sambil mulai belajar soal kehidupan setelah bayi lahir.
Konsep ini yang diangkat Fluffy lewat The First Baby Moon in Jakarta, digelar Sabtu, 19 September 2026. Mengusung konsep babymoon, acara ini diikuti 100 pasangan atau sekitar 200 peserta.
Berbeda dari babymoon yang identik dengan quality time, acara ini juga menghadirkan edukasi. Peserta mengikuti health talk bersama dr. Kartika Iswaranti, Sp.OG serta newborn care class bersama Atik Prihatin, A.Md.Kep. Pasangan juga diajak menikmati berbagai aktivitas bersama dan mengabadikan perjalanan kehamilan.
Menurut Marcomm Manager Fluffy, Aulia Rizky Wijayanto, antusiasme terlihat dari tiket yang habis dalam waktu kurang dari satu hari. Hal ini menunjukkan minat calon orangtua untuk memperkaya pengetahuan semakin besar.
CEO Fluffy, Ferry Mulyadi, menilai edukasi sebagai bagian penting dari perjalanan menjadi orangtua.
"Ketika orangtua mendapatkan edukasi, mereka akan lebih memahami anak, lebih sabar, dan tahu bagaimana menghadapi berbagai kondisi, misalnya ketika anak rewel atau dalam menghadapi penggunaan gadget," ujar Ferry.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional
Jika ibu atau ayah merasa cemas berlebihan, sedih berkepanjangan, atau sulit menjalani rutinitas menjelang kelahiran, jangan ragu mencari bantuan. Konsultasi dengan dokter, bidan, atau psikolog bisa membantu.
Dukungan psikologis bukan tanda kelemahan. Justru ini langkah bijak untuk memastikan ibu dan ayah siap menyambut peran baru.
Memasuki usia 25 tahun, Fluffy berencana memperluas kegiatan edukatif untuk orangtua di berbagai kota di Indonesia. Selain itu, mereka terus mengembangkan produk bayi dan anak sesuai kebutuhan keluarga.
Menyiapkan diri sebagai orangtua adalah proses yang berjalan bertahun-tahun, bukan hanya sampai bayi lahir. Semakin awal ibu dan ayah membekali diri, semakin tenang menjalani hari-hari pertama bersama si kecil.