Pencarian

Berapa Usia Pakai Baterai LFP di Mobil Listrik? Ini Penjelasan Periklindo

Selasa, 29 September 2026 • 10:21:32 WIB
Berapa Usia Pakai Baterai LFP di Mobil Listrik? Ini Penjelasan Periklindo
Baterai LFP disebut memiliki masa pakai hingga 20 tahun, lebih lama dibanding baterai NMC.

SPIRITBANGSA.COM — Baterai LFP (Lithium Ferro-Phosphate) yang dipakai mobil listrik BYD, Wuling, hingga Chery disebut bisa berfungsi hingga 20 tahun, jauh lebih lama dibanding baterai NMC yang rata-rata 10 tahun. Klaim itu disampaikan Wakil Ketua Pengembangan dan Penelitian Periklindo Prabowo Kartoleksono dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR. Selain umur panjang, baterai LFP juga lebih murah dan lebih aman dari sisi titik nyala.

Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) membeberkan alasan banyak produsen mobil dan motor listrik di Indonesia memilih baterai LFP sebagai sumber tenaga. Prabowo Kartoleksono menyebut pilihan itu bukan tanpa dasar teknis maupun komersial.

Umur Baterai LFP Disebut Capai 20 Tahun

Menurut Prabowo, masa pakai baterai LFP jauh melampaui baterai NMC (Nickel Manganese Cobalt). Jika NMC rata-rata bertahan 10 tahun, LFP disebut masih bisa berfungsi hingga dua kali lipatnya.

"LFP jauh lebih panjang umurnya, katakanlah kalau NMC 10 tahun, LFP itu mungkin teman-teman dari Aismoli bisa mengkoreksi saya, mungkin 20 tahun masih bisa berfungsi," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR.

Degradasi baterai LFP juga berjalan lebih lambat ketimbang NMC. Karakter ini yang membuat sejumlah manufaktur mengalihkan lini produksinya ke baterai berbasis besi dan fosfat tersebut.

Titik Nyala LFP 800 Derajat Celsius, NMC 200 Derajat

Aspek keselamatan jadi pertimbangan lain. Prabowo menjelaskan baterai NMC bisa berubah menjadi api begitu suhunya menyentuh 200 derajat Celsius. Baterai LFP butuh suhu jauh lebih tinggi untuk mengalami hal serupa.

"LFP itu jauh lebih aman karena secara teknis titik nyalanya NMC itu 200 derajat celcius dia langsung jadi api, kalau LFP 800 (derajat), Pak. Jadi dia membutuhkan temperatur yang lebih tinggi untuk bisa menjadi api. Nah ini salah satu kenapa banyak manufaktur memilih LFP karena memang lebih aman," terangnya.

Harga Lebih Murah, tapi Densitas Kalah dari NMC

Dari sisi biaya, baterai LFP dijual lebih murah dibanding NMC. Faktor ini krusial bagi produsen karena berpengaruh langsung ke harga jual mobil listrik. Dengan baterai yang lebih ekonomis, harga kendaraan di dealer pun bisa ditekan.

Kelemahannya, densitas energi LFP tidak sebaik NMC. Bobotnya lebih berat untuk kapasitas simpan energi yang setara.

"Kelemahan LFP itu lebih berat. Jadi densitynya dalam satuan berat tidak sehebat NMC yang bisa menyimpan energi. Nah ini yang kemudian selama berapa tahun dikembangkan habis-habisan di Tiongkok," tutur Prabowo.

Produsen di Indonesia Masih Kejar Ketertinggalan Densitas

Sejumlah produsen terus mengembangkan baterai LFP agar performanya mendekati NMC. Upaya itu dilakukan supaya LFP bisa dipakai di kendaraan dengan kebutuhan jarak tempuh lebih jauh tanpa menambah bobot berlebih.

Di pasar Indonesia, baterai LFP sudah dipakai sejumlah model mobil listrik seperti BYD, Wuling, dan Chery. Pilihan itu memberi konsumen opsi kendaraan dengan biaya kepemilikan jangka panjang lebih rendah, meski harus menerima bobot baterai yang lebih berat.

Sumber: oto.detik.com

Follow spiritbangsa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks