Pencarian

151 Pekebun Sawit Bengkulu Dilatih Panen, Target 24 Ton TBS per Hektare

Minggu, 04 Oktober 2026 • 08:01:01 WIB
151 Pekebun Sawit Bengkulu Dilatih Panen, Target 24 Ton TBS per Hektare
pekebun sawit Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah mengikuti pelatihan panen dan pascapanen pada 28 September–2 Oktober 2026.

SPIRITBANGSA.COM — Sebanyak 151 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah mengikuti pelatihan panen dan pascapanen pada 28 September hingga 2 Oktober 2026. Pelatihan ini menyasar peningkatan produktivitas kebun hingga minimal 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Jika tercapai, rendemen 24-25 persen bisa menghasilkan sekitar 6 ton crude palm oil (CPO) per hektare per tahun.

Pelatihan digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Kegiatan ini bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang mendorong pekebun menerapkan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP).

Praktisi Kebun AKPY, Tri Haryadi, mewakili Direktur AKPY Dr. Sri Gunawan, mengatakan target produktivitas itu penting karena bibit unggul saja tidak cukup. Menurut dia, sebagian besar pekebun sudah memakai bibit unggul dan mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), tetapi hasil panen tetap bergantung pada perawatan kebun.

Bibit Unggul Bukan Jaminan Produksi

Tri menegaskan pemenuhan kebutuhan pupuk menjadi salah satu faktor penentu. Tanpa pupuk yang cukup, potensi bibit unggul tidak akan berubah menjadi produksi yang maksimal.

"Bibit unggul sudah digunakan, tetapi produksinya tidak akan tercapai kalau pupuknya tidak cukup," tegas Tri dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).

Selain pupuk, teknik panen dan penanganan pascapanen ikut menentukan kualitas TBS yang dijual pekebun. Dua hal itu menjadi materi utama pelatihan selama lima hari.

Target 24 Ton dan Rendemen 24-25 Persen

Angka 24 ton TBS per hektare per tahun menjadi patokan yang ingin dicapai pekebun. Dengan rendemen 24-25 persen, setiap hektare kebun berpotensi menghasilkan sekitar 6 ton CPO per tahun.

"Targetnya supaya pekebun bisa mencapai produktivitas minimal 24 ton TBS per hektare per tahun. Dengan rendemen 24-25 persen, CPO-nya bisa sekitar 6 ton per hektare per tahun," kata Tri.

Rendemen sendiri menunjukkan seberapa besar TBS yang bisa diolah menjadi CPO. Semakin tinggi rendemen, semakin besar nilai ekonomi yang didapat pekebun dari setiap ton buah yang dipanen.

Siapa yang Diuntungkan

Pelatihan ini menyasar pekebun rakyat di dua kabupaten, Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah. Mereka adalah pihak yang paling langsung merasakan hasil perbaikan budidaya, mulai dari naiknya volume panen hingga pendapatan harian.

Bagi industri hilir, pasokan TBS yang lebih stabil membantu menjaga bahan baku pabrik kelapa sawit. Pemerintah pun berkepentingan karena sawit rakyat menyumbang porsi besar dalam produksi CPO nasional.

Perbaikan pengelolaan kebun juga sejalan dengan program PSR yang mengganti tanaman tua dengan bibit unggul. Tanpa pendampingan teknis, program peremajaan berisiko tidak menghasilkan lonjakan produksi yang diharapkan.

AKPY dan BPDP menyebut pelatihan serupa akan menyasar pekebun di wilayah lain. Pendekatan yang dipakai menekankan praktik langsung di kebun, bukan sekadar teori di ruang kelas.

Bagi pekebun di Bengkulu, hasil pelatihan ini akan terlihat pada siklus panen berikutnya. Naiknya produktivitas menuju 24 ton per hektare menjadi ukuran apakah pendampingan teknis benar-benar mengubah hasil di lapangan.

Sumber: ekbis.sindonews.com

Follow spiritbangsa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks