Pemprov Sumut Siapkan Jalur Alternatif Medan-Berastagi, Intervensi Fisik Dimulai 2027 untuk Kendaraan Wisata

Pemprov Sumut memetakan ruas jalan gabungan pusat, provinsi, dan dua kabupaten untuk jalur alternatif Medan–Berastagi guna mengurai kemacetan.
Penulis: Rendra
Kamis, 03 September 2026 | 03:09:01 WIB

MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mulai memetakan ruas-ruas jalan yang akan difungsikan sebagai jalur alternatif Medan–Berastagi untuk mengurai kemacetan. Ruas yang diintervensi merupakan gabungan jalan milik pemerintah pusat, provinsi, dan dua kabupaten, yakni Deli Serdang serta Karo.

Gubernur Sumut Bobby Nasution menyampaikan target maksimal pengerjaan fisik jalur ini dimulai pada 2027 dan ditargetkan selesai pada periode 2028–2029. Kebijakan ini diambil untuk menjawab kemacetan yang hampir selalu terjadi setiap akhir pekan dan libur nasional di jalur utama Jalan Jamin Ginting.

Kendaraan Wisata Dialihkan, Logistik Tetap di Jalan Jamin Ginting

Pemprov Sumut menerapkan skema pemisahan fungsi kendaraan pada jalur alternatif ini. Kendaraan wisata atau roda enam ke bawah akan diarahkan keluar dari kepadatan di Jalan Jamin Ginting.

"Sementara untuk jalur logistik, tetap kami arahkan melewati rute utama Jalan Jamin Ginting yang ada saat ini," kata Bobby Nasution dalam pernyataan usai menerima Ikatan Cendekiawan Karo di Berastagi, Rabu.

Pemisahan ini dinilai strategis karena Berastagi selama ini menjadi tujuan utama wisatawan dari Kota Medan yang jaraknya sekitar 66 kilometer ke arah selatan. Kawasan dataran tinggi itu menawarkan udara sejuk dan pemandangan dua gunung berapi aktif, Sibayak dan Sinabung.

Pelebaran Jalan dari Simpang Poci hingga Sembahe

Kepala Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi, dan Cipta Karya Provinsi Sumut, Chandra Dalimunthe, memaparkan pemetaan teknis awal di lapangan. Salah satu titik yang diintervensi adalah ruas Medan–Namorambe–Sembahe yang akan dilebarkan dari empat meter menjadi enam hingga delapan meter.

"Mulai kawasan Simpang Poci di Jalan Jamin Ginting, kendaraan wisata diarahkan ke kiri menuju rute alternatif pelebaran jalan tersebut," jelas Chandra.

Skema ini diharapkan meningkatkan keselamatan lalu lintas dan memangkas waktu tempuh yang selama ini kerap tersendat di titik-titik kemacetan khas rute pegunungan.

Intervensi Kawasan Wisata Tahura dan Tugu Perjuangan

Selain membangun akses jalan, Pemprov Sumut akan melakukan pembenahan kawasan wisata di Karo secara masif. Fokus utama diarahkan pada Taman Hutan Raya (Tahura) Berastagi dan kawasan Tugu Perjuangan Berastagi.

Bobby menegaskan pihaknya tidak akan membangun fasilitas komersial berskala besar seperti mal atau hotel di kawasan tersebut. Prioritas pembenahan lebih ditekankan pada infrastruktur dasar kawasan agar berdampak langsung pada ekonomi masyarakat lokal.

"Kami ingin intervensi kawasan ini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, seperti yang pernah kami lakukan saat meremajakan kawasan Kota Lama Medan," ujarnya.

Percepatan Jalur Alternatif Sambil Menunggu Jalan Tol Masuk Bappenas

Pemprov Sumut tetap mendorong pembangunan jalan tol Medan–Berastagi agar masuk dalam cetak biru di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Namun, karena proses pembangunan jalan tol membutuhkan waktu panjang, intervensi ruas jalan eksisting diambil sebagai langkah cepat yang bisa segera dirasakan warga.

Perwakilan Ikatan Cendekiawan Karo, Sukarya Sinulingga, menyambut positif pemetaan jalur ini. Menurutnya, skema tersebut berpotensi mengatasi sedikitnya empat titik kemacetan yang selama ini menghambat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik dari Karo menuju Medan.

"Kami mengucapkan terima kasih atas nama masyarakat Karo, kami sangat gembira dengan kabar ini. Tentunya kami akan terus mendukung pembangunan ini," ucapnya.

Reporter: Rendra