Layanan Haji Ramah Lansia, Risiko Tinggi (Risti), dan Perempuan pada musim haji 2026 diterapkan langsung di lapangan. Di tengah padatnya rangkaian ibadah, petugas kesehatan bergerak aktif memantau kondisi jemaah, terutama lansia dan kelompok risti.
Para petugas kesehatan, mulai dari dokter hingga perawat, menjadi ujung tombak pelayanan. Mereka bekerja bersama petugas kloter untuk memastikan kondisi fisik jemaah tetap terpantau selama berada di Tanah Suci.
Petugas Kesehatan Terapkan Layanan Jemput Bola
Pelayanan kesehatan tidak lagi hanya menunggu jemaah datang ke posko. Petugas menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi langsung jemaah yang membutuhkan pendampingan.
Layanan tersebut mencakup konsultasi kesehatan harian, pendistribusian obat, pengingat jadwal minum obat, visitasi ke kamar jemaah, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan setempat jika ditemukan kondisi darurat.
“Kami tidak sekadar menunggu. Sistem jemput bola adalah wajib agar kesehatan jemaah lansia dan risti terus terpantau. Mulai dari menerima konsultasi ringan, membagikan obat, melakukan visitasi dari kamar ke kamar, hingga merujuk jemaah ke rumah sakit,” ujar Nurlena, salah satu perawat kloter yang bertugas.
Jemaah BTH 09 Dijenguk di RS King Abdul Aziz
Bentuk pendampingan itu terlihat pada Selasa (19/5/2026). Di sela jadwal pelayanan di pemondokan, Nurlena bersama Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) menjenguk salah satu jemaah yang menjalani perawatan di King Abdul Aziz Hospital, Makkah.
Jemaah tersebut adalah Erni Ali Aman (66), anggota kloter BTH 09 asal Bengkalis-Pekanbaru. Ia tengah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit tersebut.
Kunjungan petugas tidak hanya dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan dan rekam medis Erni. Kehadiran petugas kloter juga menjadi bentuk dukungan moril agar jemaah tersebut tetap bersemangat menjalani pemulihan.
Petugas berharap Erni segera pulih sehingga dapat kembali bergabung dengan rombongan dan melanjutkan rangkaian ibadah haji.






