Pencarian

Arus Modal Asing Masuk, IHSG Masih Bergeming: Analis Ungkap Cerita di Balik Layar

Jumat, 04 September 2026 • 16:02:31 WIB
Arus Modal Asing Masuk, IHSG Masih Bergeming: Analis Ungkap Cerita di Balik Layar
Arus modal asing yang masuk belum mampu menggerakkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari zona fluktuatif pada perdagangan Jumat (4/9/2026).

SPIRITBANGSA.COM — Koreksi memang bukan barang asing bagi IHSG. Secara historis, September selalu menjadi bulan yang berat bagi pasar modal Tanah Air. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, mengungkapkan data yang menunjukkan bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, IHSG rata-rata terkoreksi 0,76 persen dengan tingkat probabilitas mencapai 60 persen.

“Memang secara historis, IHSG selalu terkoreksi pada bulan September,” jelas Nicodemus kepada CNBC Indonesia, Jumat (4/9/2026).

Ada Pola Historis: Kenapa September Selalu Berat?

Tekanan pada bulan ini bukanlah kebetulan belaka. Ada beberapa faktor yang secara bersamaan menekan ruang gerak IHSG. Konflik Amerika Serikat dan Iran yang belum usai membuat harga minyak kembali merangkak naik. Dampaknya berantai: inflasi di AS kembali berpotensi memanas, memaksa bank sentral dunia berpotensi menaikkan suku bunga acuan masing-masing.

Jika skenario itu terjadi, nilai investasi dan kredit berpotensi mengecil. Perekonomian global yang tadinya diperkirakan pulih, kembali dibayangi bayang-bayang perlambatan. Analis MNC Sekuritas, Herditya, menambahkan bahwa volatilitas juga didorong oleh pergerakan harga komoditas keras seperti minyak mentah dan emas, yang langsung berdampak pada emiten berkorelasi di bursa.

Ia juga menyoroti adanya lonjakan harga kebutuhan pokok. Hal ini menjadi sentimen negatif bagi emiten-emiten sektor konsumer yang labanya bisa tertekan oleh biaya bahan baku yang membengkak. Para investor, lanjutnya, masih menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed—apakah akan tetap agresif atau mulai melonggar—mengingat energi yang mahal membuat inflasi AS makin sulit dikendalikan.

Tetap Waspada, Tapi Jangan Buru-buru Jual

Meski ada pola historis yang menekan, analis tidak serta-merta menyarankan aksi jual besar-besaran. Secara teknikal, Herditya melihat IHSG berpotensi mencatatkan penguatan di bulan ini. Level support atau batas bawah masih terjaga, sehingga peluang rebound tetap terbuka. Ia memperkirakan indeks akan bergerak di rentang 6.640 hingga 6.730.

Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menilai fluktuasi saat ini adalah hal yang wajar. Pasar sedang berada dalam fase pemulihan awal pasca kejatuhan dramatis pada pertengahan April hingga awal Juni 2026 lalu. Proses penyembuhan ini tentu tidak mulus.

“Jadi aksi akumulasi pelaku pasar masih diwarnai juga dengan aksi ambil untung oleh para trader yang belum yakin akan adanya tren naik yang kuat,” ucap Ivan.

Cari Peluang di Tengah Aksi Ambil Untung

Di tengah volatilitas tersebut, Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, melihat bahwa kembalinya arus dana asing adalah angin segar. Sentimen pasar pada bulan ini dinilai masih cukup positif. Investor memang masih melakukan rotasi sektor dan merespons berbagai berita global dengan cepat.

Untuk investor yang ingin bermanuver, Lukman mengingatkan beberapa indikator utama yang patut dicermati: ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury, dan nilai tukar dolar. Selain itu, kondisi geopolitik, pergerakan harga minyak, kebijakan fiskal pemerintah dalam negeri, serta kinerja fundamental emiten di tengah pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi penentu arah IHSG ke depan.

Aliran modal asing yang masuk menjadi awal yang positif, namun pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat untuk keluar dari zona fluktuatif.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow spiritbangsa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks