SPIRITBANGSA.COM — Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) kehilangan satwa yang tengah mereka selamatkan itu setelah kondisi kesehatannya terus memburuk dalam hitungan jam. Sempurna ditemukan warga di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, dalam keadaan sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan duka mendalam atas kematian satwa dilindungi tersebut dan mengapresiasi peran masyarakat yang melaporkan penemuan itu. "Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa," ujarnya, Kamis (3/9).
Hasil Nekropsi: Kerusakan Paru-Paru Hingga Jantung
Untuk memastikan penyebab kematian, tim dokter hewan melakukan nekropsi pada 1 September. Hasil pemeriksaan mengungkap adanya perubahan patologis pada sejumlah organ vital, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Abnormalitas pada paru-paru inilah yang dinilai menjadi pemicu utama kematian.
"Perubahan patologis pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi paru-paru hingga menyebabkan hipoksia akut atau kekurangan oksigen dalam tubuh," jelas Murlan. Gangguan pernapasan tersebut kemudian berdampak pada fungsi kardiovaskular Sempurna, yang akhirnya menyebabkan kematian.
Kronologi Penyelamatan yang Berakhir Dini Hari
Laporan pertama dari warga diterima petugas pada pukul 07.00 WIB. Tim gabungan yang bergerak ke lokasi langsung memberikan penanganan awal berupa terapi oksigen dan pemberian cairan melalui intravena sebelum Sempurna dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB.
Namun, kondisi satwa terus menurun. Sekitar pukul 14.00 WIB, napas Sempurna semakin dangkal dan saturasi oksigen tidak lagi terdeteksi. Tim medis sempat melakukan resusitasi jantung dan paru-paru (CPR) setelah Sempurna menunjukkan tanda-tanda henti napas, tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Sempurna dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.
Seruan untuk Peran Aktif Masyarakat
Murlan menegaskan bahwa laporan cepat dari warga adalah kunci dalam upaya penyelamatan satwa liar yang berada dalam kondisi darurat, terutama di tengah meningkatnya titik api akibat musim kemarau. Informasi yang akurat dan cepat dapat memperpendek waktu respons petugas ketika menemukan satwa sakit, terluka, atau terdampak kebakaran hutan dan lahan.
"Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas," kata Murlan. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rentannya populasi orang utan kalimantan yang habitatnya semakin terdesak oleh kebakaran dan alih fungsi lahan.