Pencarian

Kemenperin Kantongi Hibah Korsel Rp 230 Miliar untuk Pelatihan SDM Industri Ppuri 2026-2030

Jumat, 11 September 2026 • 08:21:01 WIB
Kemenperin Kantongi Hibah Korsel Rp 230 Miliar untuk Pelatihan SDM Industri Ppuri 2026-2030
Kemenperin menyiapkan program pelatihan SDM industri berbasis teknologi Ppuri dengan dana hibah dari Korea Selatan sebesar Rp 230 miliar.

SPIRITBANGSA.COM — Persetujuan hibah disampaikan Ministry of Trade, Industry and Resources (MOTIR) Korea Selatan melalui The Korea-Indonesia Industry and Technology Cooperation Center (KITC). Pelaksanaannya melibatkan Korea Institute for Advancement of Technology (KIAT) sebagai pengelola dana, serta konsorsium yang dipimpin Korea Institute of Industrial Technology (KITECH) bersama The Korea National Ppuri Industry Center (KPIC) sebagai mitra pelaksana dari pihak Korea.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan kompetensi tenaga kerja menjadi prasyarat utama membangun industri yang berdaya saing. Menurutnya, kerja sama internasional harus berujung pada peningkatan keterampilan dan penguasaan teknologi yang benar-benar dibutuhkan sektor manufaktur.

"Penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun industri yang berdaya saing. Kerja sama internasional perlu memberikan manfaat nyata melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan penguasaan teknologi yang dibutuhkan industri," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/9).

Apa Itu Teknologi Ppuri yang Jadi Fokus Program

Ppuri Technology merujuk pada teknologi dasar manufaktur yang menjadi fondasi proses produksi industri, mulai dari pengecoran, permesinan, hingga perlakuan panas logam. Penguasaan teknologi ini dianggap krusial bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor komponen antara untuk sejumlah sektor, seperti otomotif, elektronik, dan alat berat.

Proyek hibah ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga kerja sekaligus mempercepat transfer pengetahuan dari industri manufaktur Korea ke Indonesia. Cakupannya meliputi pelatihan teknis, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kesiapan SDM dalam mengikuti perkembangan teknologi produksi terkini.

Persiapan Masih Berjalan, Pelaksanaan Dikejar Mulai 2026

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Tri Supondy menyebut pihaknya masih berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk menuntaskan kebutuhan administratif sebelum program berjalan. Dua hal yang tengah dirampungkan adalah penyelesaian perjanjian hibah dan penetapan lokasi pelaksanaan.

"Kami mengapresiasi dukungan dan kerja sama KITC sehingga program ini dapat dipersiapkan untuk dilaksanakan pada 2026-2030. Saat ini, kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menindaklanjuti berbagai kebutuhan agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik," ujar Tri saat pertemuan dengan Direktur KITC di Jakarta (27/8).

Ditjen KPAII menggandeng Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin sebagai pelaksana program. BPSDMI juga aktif berkomunikasi dengan KPIC untuk memastikan kesiapan teknis di lapangan.

Korsel Tawarkan Perluasan ke Industri Hijau dan Baterai EV

Direktur KITC Ji Hyun Sung menilai pengembangan kompetensi di bidang Ppuri Technology sebagai salah satu kunci peningkatan kemampuan manufaktur Indonesia. Pihaknya juga menyampaikan keinginan memperluas kerja sama ke sejumlah bidang strategis di luar pengembangan SDM.

"Kami melihat terdapat banyak peluang untuk memperluas kerja sama dengan Kementerian Perindustrian. Selain pengembangan teknologi dan sumber daya manusia, kami juga ingin menjajaki lebih jauh kerja sama di bidang industri hijau dan transisi energi, kendaraan listrik dan teknologi baterai, serta bidang prioritas lainnya yang menjadi perhatian Kementerian Perindustrian," tambah Ji Hyun Sung.

Tri menyambut baik tawaran tersebut. Menurutnya, kemitraan dengan mitra internasional membuka ruang bagi Kemenperin untuk memperluas pengembangan kapasitas internal lewat pembelajaran dan pertukaran pengalaman.

"Ke depan, kami berharap Kemenperin dan KITC akan memiliki berbagai bentuk kerja sama lainnya. Kami melihat peluang untuk memperluas pembelajaran dan pertukaran pengalaman antara kedua institusi," kata Tri.

Dampak bagi Industri Manufaktur Nasional

Bagi pelaku industri, program ini berpotensi menutup celah kompetensi di lini produksi yang selama ini menjadi hambatan peningkatan nilai tambah. Penguasaan teknologi dasar manufaktur memungkinkan perusahaan mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli asing dan mempercepat lokalisasi komponen.

Pemerintah menargetkan hasil akhir berupa SDM industri yang lebih siap menguasai teknologi dasar manufaktur, kualitas proses produksi yang meningkat, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi yang lebih maju. Dalam jangka panjang, penguatan kompetensi ini diharapkan memperkuat daya saing industri manufaktur Indonesia di pasar global.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow spiritbangsa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks