SPIRITBANGSA.COM — Anak yang menangis lama hanya karena masalah kecil atau menutup telinga di tempat ramai sering dianggap manja. Padahal, dua tanda ini bisa jadi petunjuk sensitivitas emosional dan sensorik yang khas pada sebagian anak. Kenali tandanya agar Bunda bisa mendampingi Si Kecil dengan tepat.
Sebagian anak memang memproses informasi emosional dan sensorik jauh lebih dalam dibandingkan teman seusianya. Mengutip Psychology Today, sensitivitas ini bukan gangguan atau sikap berlebihan, melainkan bagian dari temperamen anak. Ada dua tanda utama yang bisa Bunda amati di rumah.
1. Respons Emosional Anak Terasa Lebih Intens
Anak bisa merasa sangat sedih setelah masalah kecil dengan teman, atau terpukul berat saat ditegur. Reaksi ini berkaitan dengan sensory processing sensitivity (SPS), karakteristik temperamen yang membuat seseorang memproses pengalaman emosional dan sensorik secara lebih mendalam.
Beberapa perilaku yang mungkin Bunda lihat:
- Sedih berkepanjangan dan butuh waktu lama untuk pulih setelah kekecewaan kecil.
- Cemas saat melihat atau mengalami konflik.
- Menganggap kritik atau teguran sebagai penolakan terhadap dirinya.
- Terlalu memikirkan hubungan pertemanan atau situasi sosial.
- Menganggap kesalahan sebagai kegagalan pribadi.
Anak dengan sensitivitas emosional tinggi bukan sedang mencari perhatian atau sengaja dramatis. Mereka memang merasakan dan memproses suatu pengalaman dengan intensitas yang lebih besar.
Penelitian yang dibahas dalam sumber tersebut menunjukkan, sensitivitas emosional tinggi dapat berkaitan dengan masalah internal seperti kecemasan dan depresi, terutama ketika anak kurang mendapat dukungan dan respons yang peka dari lingkungan terdekatnya.
2. Hal yang Dianggap Biasa Bisa Membuat Anak Kewalahan
Suara keras, cahaya terang, keramaian, sentuhan tertentu, atau bahkan tekstur pakaian bisa terasa jauh lebih mengganggu bagi anak sensitif. Sistem saraf mereka memberi respons lebih kuat terhadap rangsangan dari lingkungan.
Anak mungkin terlihat tidak nyaman di pesta ulang tahun yang ramai, menutup telinga saat mendengar suara keras, atau memilih bermain sendiri di tempat tenang. Beberapa contoh lain:
- Menghindari atau sangat terganggu oleh suara keras.
- Reaksi emosional kuat terhadap aroma tertentu.
- Tidak nyaman dengan label atau bahan pakaian tertentu.
- Lebih memilih aktivitas tenang dibanding bermain di tempat ramai.
- Menutup telinga, menjauh, atau menolak ikut aktivitas saat lingkungan terlalu ramai.
Sensitivitas dalam pemrosesan sensorik dan emosional bukanlah gangguan atau