JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 95,11 miliar pada tahun anggaran 2027 guna memperluas program Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Angka tersebut tercatat melonjak 138,6 persen jika dibandingkan dengan alokasi tahun 2026 yang berada di angka Rp 39,91 miliar.
Kenaikan dana penanganan sampah ini bakal menyasar pembangunan fasilitas di 136 lokasi. Langkah ekspansif tersebut dijalankan sebagai strategi menekan tingginya timbunan limbah perkotaan lewat skema infrastruktur berbasis masyarakat (IBM) yang melibatkan warga secara langsung.
Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai bagian dari visi PU608, yakni menjadikan pembangunan fisik sebagai pendorong produktivitas serta daya saing nasional.
Bagaimana Skema Padat Karya Menggerakkan Ekonomi Warga?
Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan bahwa proyek pengolahan limbah ini tidak sekadar berfokus pada infrastruktur fisik penampungan semata. Skema padat karya sengaja diterapkan agar perputaran uang dan upah kerja langsung diterima oleh kelompok masyarakat setempat.
“Program IBM ini memiliki multiplier effect yang besar. Selain menghasilkan infrastruktur, juga memberikan penghasilan langsung kepada masyarakat melalui skema padat karya, sehingga mampu menggerakkan ekonomi lokal,” kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) tersebut dalam keterangan tertulis Sabtu, 5 September 2026.
Warga di sekitar lokasi pembangunan diarahkan untuk aktif memilah, memanfaatkan, dan mendaur ulang residu rumah tangga sedini mungkin dari lingkungan tempat tinggal mereka.
Sampah Organik Diolah Jadi Briket, Plastik untuk Campuran Aspal
Sistem TPS3R dirancang agar material sisa konsumsi rumah tangga dapat berubah menjadi produk bernilai jual tinggi. Material organik berupa ranting pepohonan dan dedaunan dapat diproses menjadi pupuk kompos, pelet bahan bakar, hingga briket energi.
Sementara itu, material nonorganik terutama kantong kresek dan limbah plastik lainnya dipilah untuk kemudian dicacah. Cacahan limbah plastik tersebut dipersiapkan sebagai bahan campuran aspal jalan, sehingga mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menambah pemasukan pengelolanya.
Alokasi Program Padat Karya Air Minum dan Sanitasi 2027
Selain penanganan sampah terpadu, Kementerian PU juga menaikkan pendanaan untuk sejumlah proyek padat karya bidang sanitasi dan air bersih pada 2027:
- Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas): Memperoleh alokasi Rp 681,31 miliar untuk 923 lokasi, naik dari pagu 2026 sebesar Rp 558,11 miliar di 906 lokasi guna memperluas akses pipa air bersih.
- Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas): Mendapat suntikan dana Rp 595,46 miliar yang disebar ke 1.184 titik, meningkat dari nilai Rp 420,03 miliar di 823 titik pada 2026.
- Sanitasi Lembaga Pendidikan Keagamaan (LPK): Mengantongi anggaran Rp 214,22 miliar bagi 702 lokasi—naik dari Rp 201,11 miliar untuk 653 lokasi pada 2026—yang menyasar fasilitas MCK, tempat wudu, sarana cuci, serta instalasi limbah domestik.
- Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW): Naik drastis menjadi Rp 763,96 miliar untuk 1.043 kawasan, dari anggaran sebelumnya sebesar Rp 484,80 miliar di 808 lokasi.
Peningkatan pembiayaan lintas sektor lingkungan hidup ini diproyeksikan mulai bergulir penuh sesuai kalender anggaran nasional 2027.