SPIRITBANGSA.COM — Kekayaan Liang Wenfeng menembus US$40 miliar atau sekitar Rp715,65 triliun dengan asumsi kurs Rp17.891 per dolar AS, menurut catatan Forbes. Pundi-pundi hartanya berasal dari DeepSeek, perusahaan kecerdasan buatan yang ia dirikan pada 2023. Posisi itu menempatkannya di peringkat ke-52 dalam Daftar Real Time Orang Terkaya Dunia versi Forbes.
Liang lahir di Zhanjiang, Guangdong, China, pada 1985. Kedua orang tuanya adalah guru sekolah dasar. Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok jenius di bidang matematika oleh orang-orang di sekitarnya.
Latar Pendidikan dan Fondasi Karier di Bidang AI
Setelah menempuh pendidikan menengah, Liang melanjutkan studi sarjana dan magister di Universitas Zhejiang. Ia fokus pada bidang teknik informasi elektronik dan komunikasi, khususnya visi komputer dan penerapan AI.
Selepas lulus, Liang mendirikan sejumlah perusahaan yang menggabungkan AI dengan perdagangan kuantitatif. Pada 2013, ia mendirikan Hangzhou Yakebi Investment Management Co Ltd.
Dua tahun berselang, bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Hangzhou Huanfang Technology Co Ltd yang kemudian dikenal sebagai Zhejiang Jiuzhang Asset Management Co Ltd. Pada 2016, ia ikut mendirikan Ningbo High-Flyer Quantitative Investment Management Partnership, perusahaan yang mengandalkan matematika dan AI untuk investasi.
Pada 2019, Liang mendirikan High-Flyer AI yang didedikasikan untuk penelitian algoritma AI dan aplikasinya. Perusahaan ini berhasil mengelola aset lebih dari 10 miliar yuan.
DeepSeek dan Model AI Berbiaya Murah
Loncatan kekayaan Liang terjadi pada 2023 setelah ia mendirikan DeepSeek, perusahaan AI yang berfokus pada pengembangan model AI canggih. Modal perusahaan kala itu berasal dari High-Flyer.
Model AI DeepSeek dianggap efisien dan hemat biaya karena dikembangkan dengan sumber daya lebih sedikit dibandingkan pesaing Barat. Hal itu terbukti saat perusahaan merilis R1, model penalarannya yang menyaingi OpenAI o1. R1 bersifat open-source, sehingga pengembang AI mana pun dapat menggunakannya.
Mengutip CNN, perusahaan menyebut mereka hanya menghabiskan US$5,6 juta untuk mendukung model dasar AI-nya. Biaya tersebut lebih murah dibanding dana ratusan juta, bahkan miliaran dolar yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan AS untuk mengembangkan teknologi AI mereka.
DeepSeek kemudian menjadi pesaing ChatGPT dari OpenAI, Gemini dari Google, dan AI terkemuka lainnya. Hal ini juga menjadi bukti bahwa China mampu mengembangkan model AI-nya sendiri.
Pendanaan dan Valuasi DeepSeek
Pada Juni lalu, DeepSeek menggalang US$7,4 miliar dalam putaran pendanaan perusahaan. Valuasi DeepSeek saat itu mencapai US$52 miliar.
Angka tersebut menempatkan DeepSeek sebagai salah satu perusahaan AI dengan valuasi terbesar di dunia. Posisi itu sekaligus memperkuat posisi Liang di jajaran orang terkaya global.
Kontroversi di Balik Kesuksesan DeepSeek
Kesuksesan DeepSeek tidak lepas dari kontroversi. Beberapa ahli memperingatkan potensi risiko penggunaan platform AI ini, termasuk penyebaran misinformasi dan dugaan eksploitasi data oleh pemerintah China.
Muncul pula kekhawatiran terkait privasi data dan kepatuhan terhadap regulasi China di negara-negara Barat. Isu ini menjadi perhatian tersendiri bagi pelaku industri AI global yang ingin menjalin kerja sama dengan DeepSeek.