SPIRITBANGSA.COM — Nilai tukar rupiah melemah 26 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.939 per USD pada pembukaan perdagangan pagi ini, dari posisi penutupan pekan lalu Rp17.913 per USD. Pelemahan terjadi saat dolar AS menguat menjelang rilis data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat. Analis pasar uang memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di rentang Rp17.910-Rp17.960 per USD sepanjang hari.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di Rp17.939 per USD pada pembukaan perdagangan. Sementara itu, mengutip Yahoo Finance, mata uang Garuda tercatat di Rp17.894 per USD, melemah dibandingkan pembukaan perdagangan sebelumnya Rp17.879 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah bergerak fluktuatif dan kemungkinan besar kembali melemah pada perdagangan hari ini. Proyeksi itu merujuk pada pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan.
Dorongan The Fed dan Data Inflasi AS
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, mengungkapkan kebutuhan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target dua persen. Gubernur The Fed Christopher Waller mengindikasikan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk menurunkan inflasi lebih cepat jika data ekonomi tetap sesuai perkiraan.
"Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed," ujar Ibrahim.
Rilis data inflasi konsumen dan produsen AS menjadi penentu arah dolar dalam beberapa hari ke depan. Pasar juga menanti data penjualan ritel serta pernyataan lanjutan pejabat The Fed.
Sentimen Geopolitik dan Ancaman Degradasi MSCI
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan Ukraina dan Rusia sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kesepakatan itu menyusul pasokan diesel AS ke Moskow.
Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu pengumuman MSCI terkait ancaman degradasi Indonesia ke Frontier Market. Pasar saham Indonesia berpotensi dikenakan pembekuan yang terus berlanjut.
Jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Situasi itu menjadi tekanan tambahan bagi rupiah di tengah penguatan dolar AS.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis
Pelemahan rupiah ke level Rp17.939 per USD memperlebar tekanan biaya impor bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dolar. Investor asing juga cenderung menahan posisi menjelang kejelasan data inflasi AS dan keputusan MSCI.
Rentang pergerakan Rp17.910-Rp17.960 per USD menjadi acuan jangka pendek. Jika data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, ruang pelemahan rupiah bisa terbuka lebih lebar.