Pencarian

IMD dan Skin to Skin Pasca Operasi Caesar: Waktu Terbaik Menurut Studi

Kamis, 08 Oktober 2026 • 09:01:01 WIB
IMD dan Skin to Skin Pasca Operasi Caesar: Waktu Terbaik Menurut Studi
Bayi sehat cukup bulan menjalani kontak kulit-ke-kulit dengan ibunya segera setelah kelahiran.

SPIRITBANGSA.COM — Operasi caesar sering membuat ibu dan bayi terpisah di jam-jam pertama, padahal momen itu krusial untuk inisiasi menyusui dini. Studi terbaru memetakan tiga kategori waktu kontak kulit-ke-kulit pasca-caesar, dari menit pertama hingga 24 jam setelah lahir. Panduan ini merangkum temuan tersebut plus sejarah singkat mengapa bayi dulu dipisahkan dari ibunya.

Operasi caesar bukan alasan ibu kehilangan momen kontak pertama dengan bayinya. Penelitian terbaru memetakan kapan sebaiknya inisiasi menyusui dini (IMD) dan kontak skin to skin dilakukan setelah persalinan caesar. Temuan ini sekaligus menjawab kebingungan banyak ibu yang baru pulih dari operasi.

Selama ini, kontak kulit-ke-kulit dianggap sulit dilakukan pasca-caesar karena kondisi ibu yang masih dalam pemulihan. Padahal, IMD dan skin to skin termasuk prosedur yang direkomendasikan WHO dan UNICEF dalam satu jam pertama setelah kelahiran.

Tiga Kategori Waktu Kontak Kulit-ke-Kulit

Penelitian membagi praktik kontak kulit-ke-kulit dini untuk bayi sehat cukup bulan ke dalam tiga jenis. Pembagian ini membantu tenaga medis dan orang tua menentukan target realistis sesuai kondisi persalinan.

  • Kontak skin to skin saat lahir, dimulai pada menit pertama pascakelahiran.
  • Kontak skin to skin sangat dini, dimulai dalam 30–40 menit setelah kelahiran.
  • Kontak skin to skin dini, mencakup waktu kontak kulit-ke-kulit apa pun yang terjadi dalam 24 jam pertama.

Idealnya, bayi telanjang dada diletakkan di atas dada ibu yang juga terbuka, dan tetap berada di sana setidaknya hingga sesi menyusui pertama selesai. Untuk ibu pasca-caesar, target 24 jam pertama menjadi patokan yang lebih masuk akal jika kondisi ruang operasi atau pemulihan belum memungkinkan kontak langsung.

Mengapa Bayi Dulu Dipisahkan dari Ibunya

Pemisahan bayi baru lahir dari ibunya bukan praktik kuno, melainkan fenomena khas abad ke-20. Di masa lampau, kelangsungan hidup bayi justru bergantung pada kontak erat yang nyaris tanpa jeda dengan orang tua yang melahirkannya.

Kebiasaan memisahkan bayi baru bermula pada awal 1900-an, saat proses kelahiran berpindah dari rumah ke rumah sakit. Sebagian besar ibu saat itu menerima anestesi umum selama fase mengejan, sehingga tidak bisa berinteraksi dengan bayinya setelah lahir.

Karena ibu tidak mampu merawat, rumah sakit menyediakan ruang perawatan khusus untuk bayi baru lahir. Bayi umumnya dipisahkan dari orang tuanya selama 24 hingga 48 jam setelah kelahiran.

Titik Balik Praktik Pemisahan Bayi

Pada 1961, Dr. Berry Brazelton menerbitkan studi klasik yang menunjukkan bahwa anestesi umum selama persalinan berdampak buruk bagi bayi baru lahir. Temuan itu mendorong dokter beralih dari anestesi umum ke anestesi regional saat melahirkan.

Perubahan ini membuat ibu dan bayi tetap terjaga serta mampu berinteraksi segera setelah kelahiran. Kini, sebagian besar ibu yang menjalani operasi caesar menerima anestesi regional seperti epidural, spinal, atau kombinasi spinal-epidural, sehingga mereka biasanya tetap sadar setelah melahirkan.

Yang menarik, peneliti menemukan pergeseran cara pandang. Ketika mempelajari interaksi orang tua dan bayi pada 1900-an hingga awal 2000-an, menjaga keduanya tetap bersama dianggap sebagai intervensi eksperimental. Sebaliknya, saat meneliti mamalia non-manusia, menjaga ibu dan bayi tetap bersama justru dianggap kondisi normal, sementara memisahkan bayi dari induknya dianggap tindakan eksperimental.

Manfaat IMD dan Skin to Skin untuk Ibu Pasca-Caesar

Kontak kulit-ke-kulit membantu mengatur suhu tubuh bayi baru lahir. Kulit ibu juga memaparkan bayi pada bakteri baik yang berperan melindungi dari penyakit menular dan membangun sistem kekebalan tubuhnya.

Setelah IMD, ASI eksklusif direkomendasikan selama enam bulan pertama kehidupan, dimulai dalam waktu satu jam setelah kelahiran. Pemberian ASI tanpa makanan tambahan pada periode ini mendukung perkembangan sensorik dan kognitif bayi, sekaligus melindungi mereka dari penyakit menular maupun kronis.

Bagi ibu yang menjalani caesar, kendala utama biasanya bukan pada niat, melainkan pada kondisi pemulihan dan prosedur ruang operasi. Karena itu, komunikasikan keinginan Anda untuk IMD dan skin to skin dengan dokter kandungan dan tim persalinan sejak jauh hari.

Kapan Perlu Minta Pendampingan Tenaga Medis

Jika ibu merasa terlalu lemas, nyeri hebat, atau mengalami komplikasi pasca-caesar, mintalah bantuan perawat atau bidan untuk memposisikan bayi di dada Anda. Kontak kulit-ke-kulit tetap bisa diupayakan dengan pengawasan tenaga medis.

Diskusikan juga dengan dokter jika ada kondisi khusus pada bayi, misalnya lahir prematur atau memerlukan perawatan intensif. Pada kasus seperti ini, waktu kontak pertama mungkin perlu disesuaikan dengan kondisi medis bayi.

Setiap menit kontak kulit-ke-kulit punya nilai, termasuk yang baru terwujud beberapa jam setelah operasi. Yang penting, ibu dan bayi berada bersama, dan dukungan tenaga medis tersedia untuk mewujudkannya.

Sumber: haibunda.com

Follow spiritbangsa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks